Bagaimana Mengatasi Tantrum pada Anak Usia 7-9 Tahun?

  • 23 Apr 2026 13:04 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Mengajari anak menenangkan diri saat tantrum itu bukan soal “menghentikan” emosinya, tapi membantu mereka belajar mengelola emosi yang masih terlalu besar untuk mereka pahami. Ini butuh latihan berulang dan pendekatan yang konsisten.

Menghadapi anak tantrum bagi sebagian orang tua cukup menguras energi, emosi, dan menguji kesabaran untuk tenang, sambil berpikir cara yang tepat mengajari anak menenangkan diri saat emosinya mulai muncul.

Simak cara yang efektif dan realistis ini;

1. Dampingi dulu, jangan langsung menasihati

Saat tantrum, bagian otak anak yang mengatur logika belum aktif. Jadi nasihat panjang tidak akan masuk.

Lebih baik:

  • Dekat secara fisik (jika anak mau), jangan memaksa.
  • Gunakan suara tenang, pastikan kita lebih dahulu tenang agar tone suara juga tdk terdengar emosi.
  • Ucapkan hal sederhana seperti: “Mama/Papa tahu kamu marah.”

Ini membantu anak merasa aman dulu.

2. Ajari “nama emosi”

Setelah mulai sedikit tenang, bantu mereka mengenali perasaan:

  • “Kamu kesal ya karena mainannya diambil?”
  • “Kamu sedih karena harus pulang?”

Ini melatih kesadaran emosi, langkah awal self-regulation.

3. Kenalkan teknik menenangkan (latih saat TIDAK tantrum)

Jangan tunggu saat anak meledak. Latih di waktu santai:

Beberapa teknik sederhana:

  • Tarik napas dalam (misalnya “hirup 4 detik, hembus 4 detik”)
  • Peluk bantal atau boneka
  • Hitung 1–10
  • Duduk di “pojok tenang” (bukan hukuman, tapi tempat nyaman)

4. Jadi contoh (ini yang paling penting)

Anak belajar dari cara orang tua bereaksi.

Kalau Anda bisa tetap tenang saat mereka tantrum, mereka akan meniru.

Kalau Anda ikut marah atau membentak, anak belajar bahwa emosi = meledak.

5. Buat rutinitas & batas yang konsisten

Banyak tantrum muncul karena:

  • Lelah
  • Lapar
  • Terlalu banyak perubahan

Solusinya:

  • Jadwal tidur & makan teratur
  • Beri “warning” sebelum transisi (misalnya: “5 menit lagi kita pulang ya”)

6. Validasi, tapi tetap tegas

Validasi bukan berarti menuruti semua keinginan.

Contoh:

  • “Kamu marah karena tidak boleh nonton lagi. Itu wajar. Tapi waktunya sudah selesai.”

Anak belajar: emosi boleh, perilaku tetap ada batasnya.

7. Setelah tantrum selesai, refleksi singkat

Jangan bahas saat anak masih emosional.

Saat sudah tenang:

  • “Tadi kamu marah ya. Besok kalau marah, kita bisa coba tarik napas ya.”

Ini membantu anak membangun “alat” untuk kejadian berikutnya.

8. Turunkan ekspektasi (ini proses panjang)

Skill menenangkan diri itu berkembang bertahun-tahun, bukan langsung bisa. Bahkan orang dewasa pun masih belajar. Pastikan kita yang terlebih dahulu tenang, suasana hati aman, baru mengajari anak kelola emosi, karena menjadi orang tua adalah proses belajar setiap saat yang tak pernah berhenti.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....