Makna Minggu Palma Bagi Umat Katolik di Sorong Selatan

  • 29 Mar 2026 20:40 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Teminabuan - Umat Katolik di Paroki Santo (St.) Albertus Agung di Teminabuan, Keuskupan Manokwari - Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, merayakan Minggu Palma dengan pawai atau arak-arakan daun palma dari SD YPPK St. Paulus Teminabuan menuju gereja. Perayaan Minggu Palma ini dipimpin oleh Pastor Paroki St. Albertus Agung di Teminabuan, RD. Zepto Triffon Poli'i, Minggu 29 Maret 2026.

RD. Zepto Triffon Poli'i kepada RRI menyampaikan, hari minggu palma merupakan momen memperingati peristiwa Yesus memasuki kota Yerusalem, serta awal memasuki pekan sengsara Yesus Kristus.

Dalam liturgi gereja katolik, ada dua hal penting dalam perayaan minggu palma. Yakni ada pemberkatan daun palma dan dibagikan kepada umat, kemudian perarakan menuju gereja dengan iringan lagu-lagu Hosana Putera Daud.

Perarakan umat katolik Paroki Santo Albertus Agung di Teminabuan dalam perayaan Minggu Palma. (Edis RRI)

"Daun-daun palma itu bukan sekedar aksesoris. Tetapi tanda pengingat akan kehadiran yang kudus dan ilahi, yang membawa keselamatan bagi umat manusia. Kemudian pawai itu bukan sekedar arak-arakan, tetapi suatu perjalanan doa. Di mana umat dapat merenungkan tentang kerapuhan hidup sebagai manusia. Sebagaimana orang-orang Israel berseru kepada Yang Maha Tinggi, Hosana Putera Daud. Dan dari mulut yang sama juga mengeluarkan kalimat, salibkan Dia, salibkan Dia," ungkapnya.

Lebih lanjut Pastor Zepto memberikan pesan rohani kepada umat katolik, agar dapat menyingkirkan kekuatan sikap dan tingkah laku negatif dalam diri. Misalnya sikap iri hati, sakit hati, dengki dan sebagainya, tidak boleh dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam diri.

Momen pasio Minggu Palma di Paroki Santo Albertus Agung di Teminabuan. (Edis RRI)

Maka itu sepanjang masa pra paskah dan memasuki pekan sengsara Yesus Kristus, umat katolik diharapkan untuk semakin menyadari kerapuhan diri sebagai manusia, serta semakin menumbuhkan dan menunjukan kesetiaan kepada Tuhan.

"Jangan biarkan setan atau iblis terus menggerogoti hidup kita dengan adanya sikap iri, sakit hati, marah dan sebagainya. Contohnya Yudas dan orang-orang lain yang dekat dengan Yesus. Mereka sebenarnya orang-orang baik. Tetapi karena ekspektasinya tentang Yesus tidak sesuai harapan, maka tumbuhlah berbagai sikap negatif dan menghancurkan Yesus. Mereka mengharapkan Yesus sebagai pembebas dari penjajahan. Tetapi maksud Yesus adalah pembebas umat manusia dari dosa," terangnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....