Teknologi Masuk Kelas: Jaga Kreativitas dan Kesehatan Mental Murid

  • 22 Jun 2026 10:17 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya memastikan ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman bagi kreativitas, kesehatan mental, dan tumbuh kembang generasi masa depan. Ketika digitalisasi masuk dalam dunia pendidikan tujuannya adalah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas, efektivitas, dan akses pendidikan bagi seluruh peserta didik, dengan tidak mengesampingan proses belajar yang sudah berjalan baik.

Lewat siaran persnya, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menawarkan sudut pandang berbeda. Alih-alih mendorong penggunaan teknologi tanpa batas, ia justru menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan perangkat digital dan tradisi belajar yang menurutnya mampu mendukung tumbuh kembang murid.

Fajar menyampaikan, "transformasi digital bukan hanya menghadirkan perangkat canggih ke sekolah. Lebih dari itu, teknologi harus digunakan secara bijak agar tidak mengganggu perkembangan kognitif, kreativitas, maupun kesehatan mental peserta didik. Di berbagai sekolah, pemerintah telah menghadirkan Interactive Flat Panel (IFP) yang mendukung pembelajaran modern. Jangan sampai murid kehilangan daya kreativitasnya, guru kehilangan inovasinya. Kalau seperti itu, maka IFP telah menggantikan peran-peran pedagogis guru, dan itu adalah satu musibah," tegas Fajar

Namun, Fajar mengingatkan bahwa kehadiran teknologi tidak boleh membuat murid menjadi pasif atau mengurangi peran guru sebagai fasilitator pembelajaran. Dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan baru berkat perkembangan teknologi yang pesat. Selain membuka akses informasi yang luas, teknologi juga membawa risiko seperti menurunnya fokus belajar, kecemasan, hingga fenomena brain rot akibat paparan gawai yang berlebihan.

Oleh karena itu, Kemendikdasmen mendorong pendekatan yang lebih seimbang. Melalui transformasi pedagogis berbasis Deep Learning, pengalaman belajar murid ditempatkan sebagai pusat proses pembelajaran. Di saat yang sama, kebiasaan menulis manual tetap dipertahankan melalui penyediaan buku tulis untuk membantu menstimulasi kemampuan motorik halus dan proses berpikir yang lebih mendalam.

Semangat berbagi tersebut menjadi bagian penting dari transformasi pendidikan yang tengah dibangun Kemendikdasmen. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang tersedia, keberhasilan pembelajaran tetap bergantung pada guru yang mampu menggunakannya secara tepat dan manusiawi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....