Mengapa Orang Suka Iri Hati, Ini Penjelasannya

  • 02 Agt 2026 06:42 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID Teminabuan– Rasa iri hati atau dengki sering kali dianggap sebagai sekadar penyakit hati biasa. Namun, dari sudut pandang sains, kondisi emosional ini merupakan fenomena psikologis yang sangat kompleks.

Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan membenci kesuksesan orang lain berakar dari masalah mendalam yang ada di dalam mental mereka sendiri.

Akar Psikologis di Balik Sikap Iri

Menurut penjelasan psikologis, alasan utama seseorang atau sekelompok orang memelihara rasa iri hati adalah adanya rasa tidak aman (insecurity) yang tinggi serta rendahnya harga diri (low self-esteem). Ketika seseorang memiliki low self-esteem, mereka tidak mampu melihat nilai positif dalam diri mereka sendiri.

Alhasil, setiap kali melihat orang lain meraih pencapaian, kepemilikan, atau kebahagiaan, otak mereka menerjemahkannya sebagai sebuah ancaman atau penegasan atas kegagalan hidup mereka.

Faktor pemicu ini diperparah oleh kebiasaan melakukan perbandingan sosial ke atas (upward social comparison). Alih-alih merasa termotivasi, mereka yang terjebak emosi negatif ini justru memendam rasa tidak senang dan kebencian.

Di era modern saat ini, media sosial dituding menjadi bahan bakar terbesar yang memicu ilusi bahwa kehidupan orang lain jauh lebih sempurna.

Pandangan Pakar Psikologi Indonesia

Membahas fenomena ini, pakar psikologi klinis terkemuka di Indonesia, Prof. Dr. Kasandra Putranto, sering kali menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dari racun emosional seperti iri hati.

Dalam berbagai kesempatan edukasi literasi psikologi, beliau memaparkan bahwa apa yang keluar dari sikap seseorang—termasuk perilaku nyinyir, julid, hingga membenci keberhasilan sesama—adalah cerminan dari apa yang sebenarnya mereka miliki di dalam batinnya.

Jika batinnya penuh dengan luka atau kekosongan, maka respons yang keluar ke lingkungan sosialnya adalah energi negatif.

Lebih lanjut, rasa iri ini tidak hanya menyerang individu, tetapi juga bisa terjadi secara kolektif pada kelompok orang yang merasa status sosial atau eksistensi kelompoknya terancam oleh pencapaian kelompok lain.

Sifat iri hati yang dipelihara terus-menerus terbukti secara empiris dapat merusak sistem imun akibat stres kronis, serta merusak jalinan relasi sosial di dunia nyata.

Oleh karena itu, mengenali akar insecurity dan belajar mengapresiasi diri sendiri adalah langkah pertama untuk lepas dari belenggu emosi beracun ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....