Kritik Netizen Terhadap Pola Asuh Denise Chariesta,Ini Kata Pisikolog
- 09 Apr 2026 09:29 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID Teminabuan- Gaya pengasuhan selebriti Denise Chariesta kini tengah menjadi sorotan tajam publik setelah video yang memperlihatkan aksi anaknya merusak barang viral di media sosial. Netizen mempertanyakan metode pendidikan yang diterapkan Denise, yang dinilai kurang tegas dalam memberikan teguran serta batasan disiplin kepada sang buah hati saat berada di tempat umum maupun di rumah.
Dalam sejumlah unggahan yang beredar, anak Denise terlihat melempar dan memecahkan berbagai benda, termasuk barang-barang dengan nilai material yang cukup mahal. Aksi tersebut memicu gelombang kritik dari warganet yang menilai bahwa membiarkan perilaku destruktif tanpa teguran yang tepat dapat membentuk karakter anak yang kurang baik di masa depan. Pola asuh ini dianggap sebagai contoh pendidikan yang keliru karena abai dalam menanamkan nilai tanggung jawab sejak dini.
Menanggapi kritik tersebut,Denise Chariesta dalam akun youtube pribadinya,DeniseCharistaOfficial bereaksi keras dan menyatakan bahwa setiap orang tua memiliki metode pengasuhan yang berbeda-beda. Ia mengklaim bahwa pendekatannya didasari oleh kelembutan dan kesabaran yang ekstra. Denise juga menegaskan agar publik tidak menghakimi cara didiknya tanpa mengetahui kondisi kehidupan mereka sehari-hari secara langsung di rumah.
Namun,menurut salah satu pakar parenting psikolog klinis dalam memberikan edukasinya melalui akun instagram@katapsikologi Ferdian Permana Spesialisasi Anxiety Expert (Pakar Kecemasan).Menjelaskan bahwa,Perilaku anak usia 2 tahun (fase toddler) yang aktif, suka melempar, hingga memecahkan barang sebenarnya adalah hal yang normal. Pada usia ini, tugas utama perkembangan anak adalah eksplorasi sebanyak-banyaknya. Mereka sedang menggunakan panca indera (penglihatan, pendengaran, peraba) untuk mengenal lingkungan sekitar.Meski normal, perilaku ini tidak boleh dibiarkan tanpa kendali. Jika orang tua tidak memberikan kontrol, anak bisa menjadi "barbar" dan tindakannya dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain di masa depan. Kunci utamanya adalah orang tua harus memahami prinsip dasar perilaku yang disebut Model ABC.
Agar anak memahami batasan, orang tua disarankan menerapkan pola berikut:
- A (Antecedents): Mencari tahu penyebab atau pemicu perilaku. Apakah karena lapar, mengonsumsi terlalu banyak gula, atau lingkungan yang terlalu bising/distraktif.
- B (Behavior): Mengamati perilaku anak secara objektif. Apakah perilaku tersebut positif (ingin dipertahankan) atau negatif (ingin dihentikan).
- C (Consequences): Memberikan konsekuensi yang konsisten. Anak tidak akan mengerti jika hanya dilarang dengan kata "jangan" atau "no". Jika anak merusak barang dan konsekuensinya hanya dibayar oleh orang tua, anak akan menganggap tindakannya tidak berisiko.
Menurut Ferdian Permana,ada dua jenis hukuman yang bisa diberikan untuk mendidik anak yaitu:
- Hukuman Positif: Memberikan sesuatu yang tidak disukai anak sebagai konsekuensi (misalnya: tugas tambahan atau teguran tegas).
- Hukuman Negatif: Mengambil sesuatu yang disukai anak (misalnya: mengambil mainan kesukaannya untuk sementara atau memisahkan dia dari keramaian/waktu bermain).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....