Perjalanan Lenso Soleram, Dari Lagu Pengantar Tidur menuju Pertunjukan Istana

  • 30 Jun 2026 05:53 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID,, Sorong — Lagu "Soleram" mungkin sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia sebagai lagu pengantar tidur atau dendang anak-anak dari Provinsi Riau. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa lagu ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang, bertransformasi dari sekadar nyanyian rakyat menjadi simbol diplomasi budaya di era Presiden Soekarno melalui variasi yang dikenal sebagai "Lenso Soleram".

Berikut adalah rekam jejak dan biografi perjalanan lagu "Soleram" hingga bertransformasi menjadi bagian dari tradisi Tari Lenso yang populer di era 1960-an.

Asal-usul: Senandung Pengantar Tidur Berisi Pantun

Aslinya, "Soleram" adalah lagu daerah Riau yang berakar dari tradisi sastra lisan Melayu. Struktur liriknya menggunakan format pantun klasik—dua baris pertama sebagai sampiran, dan dua baris terakhir sebagai isi.

Pesan yang terkandung di dalamnya sangat mendalam, mulai dari nasihat agar anak-anak tidak melupakan teman lama saat mendapatkan teman baru, hingga pentingnya menjaga kehormatan diri. Melodinya yang lembut mendayu-dayu membuat lagu ini awalnya berfungsi efektif sebagai senandung pengantar tidur (lullaby).

Era Terobosan: Diplomasi Kebudayaan Bung Karno

Transformasi besar terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Pada era 1950-an hingga 1960-an, Bung Karno gencar menggalakkan seni budaya nasional untuk menggantikan dansa barat yang dianggap kebarat-baratan. Dari sinilah lahir dekonstruksi Tari Lenso—tarian pergaulan masyarakat Maluku yang diangkat menjadi tarian resmi istana untuk menyambut tamu negara.

Untuk mengiringi Tari Lenso ini, aransemen lagu-lagu daerah diubah. "Soleram" yang semula lambat dan melankolis, diubah tempo dan ketukannya menjadi lebih riang, bersemangat, dan berirama cepat (upbeat) agar cocok dengan gerakan mengayun selendang (lenso). Aransemen baru inilah yang kemudian dikenal dalam album-album dokumentasi sebagai bagian dari gerakan "Mari Bersuka Ria dengan Lenso".

Kronologi Perjalanan Musik "Lenso Soleram"

Awal Abad ke-20

Era Tradisional

Soleram hidup sebagai sastra lisan dan nyanyian rakyat di wilayah Riau dan Semenanjung Melayu, dinyanyikan tanpa iringan alat musik modern.

Tahun 1962

Album 'Mari Bersuka Ria'

Atas restu Presiden Soekarno, lagu ini direkam oleh musisi legendaris Indonesia (seperti Jack Lesmana dan Bing Slamet) ke dalam album "Mari Bersuka Ria dengan Lenso". Ritmenya berubah total menjadi irama lenso yang dinamis.

Tahun 1965

Panggung Internasional

Lagu Soleram versi lenso kerap dibawakan oleh delegasi seni Indonesia di luar negeri sebagai alat diplomasi soft power untuk mengenalkan identitas budaya Indonesia yang guyub dan ramah.

Warisan yang Hidup hingga Kini

Melalui transformasi "Lenso Soleram", lagu ini berhasil melintasi batas geografis. Ia tidak lagi hanya milik masyarakat Riau, melainkan menjadi warisan kolektif bangsa Indonesia. Iramanya yang mengajak orang bergerak bersama membuktikan bahwa seni musik tradisional Indonesia memiliki kelenturan untuk beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jiwa dan pesan moralnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....