Soft Living Bukan Slow Living, Ketahui Perbedaanya

  • 16 Jun 2026 08:21 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong- Belakangan ini muncul konsep gaya hidup baru sebagi respon akan kehidupan modern yang serba cepat. Istilah soft living dan slow living makin sering dibahas terutama oleh generasi muda. Banyak anak muda yang mulai mencari keseimbangan hidup demi menjaga kesehatan mental mereka dengan gaya hidup slow living dan soft living. Kedengarannya dua konsep gaya hidup tersebut sama, namun ternyata keduanya memiliki fokus dan pendekatan yang berbeda.

Soft living merupakan gaya hidup yang menekankan kelembutan pada diri sendiri. Konsep ini muncul sebagai penolakan terhadap budaya yang mengagungkan kesibukan tanpa henti atau yang biasa disebut dengan hustle culture. Biasanya orang yang menerapkan soft living ini akan berusaha memberikan ruang istirahat yang nyaman, menjalani hidup dengan tenang, dan tidak menuntut kesempurnaan. Fokus utamanya adalah menjaga kesehatan mental agar seimbang dengan hidup yang terus menuntut.

Sementara itu, slow living lebih menekankan persoalan cara menjalani aktivitas sehari-hari dengan ritme yang lebih lambat, bermakna, dan penuh kesadaran. Biasanya penganut slow living ini akan berusaha mengurangi kebiasaan terburu-buru. Sebaliknya mereka akan menikmati setiap proses yang sedang mereka jalani. Mereka cenderung memilih kualitas dibanding kuantitas. Slow living ini berfokus mengajak seseorang untuk tidak terpaku pada kecepatan atau produktivitas.

Adapun perbedaan utama antara keduanya adalah pada fokus yang ingin dicapai. Soft living ini berkaitan dengan hubungan seseorang pada dirinya sendiri terutama dalam mengelola tekanan, ekspektasi, dan emosi. Sedangkan slow living adalah berhubungan dengan seseorang mengatur waktu, ritme kehidupan, dan aktivitas mereka. Soft living mengajarkan keramahan pada diri sendiri sedangkan slow living mengajarkan untuk tidak terburu-buru dalam menjalani hidup.

Seseorang bisa menerapkan soft living tanpa menjalani slow living sepenuhnya. Misal seorang pekerja yang memiliki jadwal padat tetap bisa menerapkan soft living dengan memberikan ruang istirahat dan menerima bahwa semuanya tidak harus sempurna.Seseorang tidak perlu mengurangi aktivitas yang tidak penting seperti halnya penerapan slow living.

Kedua konsep ini sama-sama hadir sebagai alternatif terhadap gaya hidup yang terlalu kompetitif dan melelahkan. Tidak sedikit orang yang menggabungkan keduanya untuk menciptakan kehidupan yang lebih seimbang. Mereka berusaha mengurangi tekanan yang tidak perlu sekaligus memperlambat ritme hidup agar dapat menikmati setiap proses dengan lebih bermakna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....