People Pleasing: Niat Baik yang Justru Menyakiti

  • 19 Apr 2026 19:20 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong- Begitu senangnya kita jika dianggap memiliki sikap yang baik, ramah, mudah membantu, dan berusaha menjaga perasaan orang lain, namun jika keinginan ini dilakukan secara berlebihan hingga mengorbankan diri kita sendiri, itu bukan lagi sekadar menebar kebaikan namun justru bisa menyakiti diri sendiri atau yang dikenal dengan istilah people pleasing.

Fenomena ini sering tidak disadari, karena dibungkus dengan niat baik. Padahal, di baliknya bisa tersimpan kelelahan emosional dan kehilangan arah diri.

Seseorang yang menjadi People pleaser adalah seseorang yang cenderung mengutamakan kebutuhan, keinginan, dan kenyamanan orang lain di atas dirinya sendiri. Mereka merasa sulit menolak dan takut mengecewakan orang lain bahkan ia sering merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

Memang sekilas hal ini baik. Tapi sebenarnya, banyak orang yang sering membantu orang lain dan menyenangkan orag lain bukan karena keinginan pribadi, melainkan karena rasa takut ditolak, tidak disukai, atau dianggap buruk. Lantas mengapa seseorang bisa menjadi people pleaser?

Pada dasarnya perilaku ini biasanya tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang sering yang menyebabkan demikian yakni pola asuh. Bisa jadi seseorang itu tumbuh di lingkungan yang penuh tuntutan dan kritik.

Adanya ketakutan aan konflik juga bisa melatarbelakangi mengapa seseorang menjadi people pleaser. Mereka cenderung menghindari perdebatan dan akan merasa berharga jika dibutuhkan dan disukai.

Banyak people pleaser tidak menyadari kebiasaannya. Biasanya people pleaser akan sulit mengatakan tidak bahkan ketika mereka tidak mampu.

Sering minta maaf berlebihan, merasa bersalah saat lebih mementingkan diri sendiri, takut dianggap egois, dan selalu mengiyakan sesuatu walau memberatkannya.

Dampak yang ditimbulkan cukuplah banyak. Dibalik sikap baik yang berlebihan ini people pleaser akan mengalami kelelahan emosional karena terus memaksakan diri agar memenuhi ekspektasi orang lain.

Kemudian akan kehilangan jati diri karena terlalu sering menyesuaikan diri dengan orang lain membuat lupa siapa diri sebenarnya, dan mengakibatkan penumpukan emosi. Perasaan lelah yang dipendam terlalu lama akan merubah mereka menjadi frustasi dan diambang kelelahan emosi.

Menjadi baik bukan berarti harus selalu mengorbankan diri. Kebaikan yang sehat justru memiliki batas yang jelas. Agar tidak menjadi people pleaser penting unutk belajar mengatakan “tidak” pada sesuatu yang dianggap tidak mampu dikerjakan. Hal itu bukanlah bentuk keegoisan melainkan bentuk untuk menghargai diri,

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....