Haus Validasi: Kenapa Butuh Pengakuan dari Orang Lain

  • 19 Apr 2026 19:03 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong- Biasanya haus validasi dianggap sebagai fenomena media sosial dimana seseorang sangat haus akan like, komentar, dan jumlah pengikut. Namun kenyataannya, kebutuhan akan pengakuan ini sudah ada jauh sebelum adanya internet. Di dunia nyata, haus validasi bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus, bahkan sering tidak disadari.

Bentuk haus validasi bisa bermacam-macam seperti ingin dipuji atasan, ingin dipuji teman atas pencapaiannya, ingin diakui keluarga, hingga ingin diterima dalam lingkungan pertemanan. Semua itu terjadi saat seseorang mengejar kata cukup agar diterima orang lain.

Pada dasarnya validasi tidak datang dalam bentuk angka, melainkan sikap dan respons orang lain. Sekilas terlihat normal. Tapi ketika keputusan hidup sepenuhnya ditentukan oleh penerimaan orang lain, di situlah masalah mulai muncul.

Lantas mengapa terkadang seseorang mencari validasi. Hal ini karena sejak kecil, kita terbiasa mengaitkan pujian dengan nilai diri. Seringkali pujian berupa “Anak pintar”, “anak baik”, atau “anak cerdas” menjadi label yang ingin terus dipertahankan. Sehingga tanpa sadar, seseorang tumbuh dengan keyakinan bahwa diri kita berharga jika diakui.

Selain itu munculnya rasa takut ditolak, takut dianggap gagal, dan takut tidak cukup baik membuat seseorang berusaha mencari validasi ini. Ketakutan tersebut membuat seseorang menjadikan validasi sebagai bentuk bahwa diterima di tengah-tengah lingkungan.

Berbeda dengan dunia digital yang bisa ditutup, dampak di dunia nyata lebih terasa langsung. Seseorang bisa kehilangan jati dirinya. Hal ini karena terlalu sering menyesuaikan diri membuat lupa siapa sebenarnya kita. Haus validasi juga menyebabkan hubungan tidak sehat karena seringkali mencari penerimaan bukan kejujuran. Lama kelamaan seseorang yang haus validasi akan mengalami kelelahan emosional karena ingin terus –menerus menjadi versi yang diagungkan oleh orang lain.

Agar kita terhindar dari haus validasi ada baiknya kita mulai untuk berlatih jujur pada diri sendiri, menetapkan batasan dalam hubungan sosial, hargai usaha diri bukan hasil pengakuan orang lain, menyadari tidak semua orang harus suka dengan kita.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....