Sejarah Panjang Sandal: Alas Kaki Sederhana yang Telah Menemani Peradaban Manusia
- 27 Mar 2026 07:35 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong,- Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sandal adalah barang sehari-hari yang kerap dianggap remeh. Mulai dari sandal jepit karet yang nyaman dipakai ke masjid, hingga sandal gunung yang mendampingi para pendaki menaklukkan puncak. Namun di balik kesederhanaannya, sandal menyimpan sejarah panjang yang mengikuti jejak peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu.
Dikuti Historia.ID, Penelusuran sejarah mencatat bahwa sandal tertua yang pernah ditemukan berasal dari Fort Rock Cave, Oregon, Amerika Serikat. Temuan ini diperkirakan berusia antara 9.300 hingga 10.200 tahun .
Sandal-sandal purba tersebut pertama kali ditemukan oleh antropolog Luther Cressman pada tahun 1938, terpendam di bawah lapisan abu vulkanik hasil erupsi Gunung Mazama. Terbuat dari kulit tanaman sagebrush dan serat-serat alami lainnya, sandal ini memiliki sol datar dengan lima tali yang membelit dari tumit hingga ujung kaki .
Bahkan sebelum penemuan di Amerika, di Benua Biru juga ditemukan jejak sandal kuno. Pada September 2023, para peneliti melaporkan penemuan 22 sandal di Cueva de Los Murcielagos (Gua Kelelawar) di selatan Spanyol. Sandal-sandal yang terbuat dari rumput esparto ini diperkirakan berasal dari 6.200 tahun silam, lebih tua dari temuan sebelumnya di Armenia yang berusia 5.500 tahun .
"Sandal-sandal ini merupakan representasi kumpulan alas kaki prasejarah yang paling awal di Eropa atau Semenanjung Iberia," demikian tulis laporan para peneliti dalam jurnal Science Advances, seperti dikutip dari laporan NBC News .
Francisco Martinez Sevilla dari Universitas Alcala Spanyol menambahkan, "Cueva de los Murcielagos ialah situs yang unik di Eropa. Tempat tersebut menjadi objek untuk mempelajari material organik dari populasi prasejarah" .
Istilah "sandal" sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, "sandalion", yang kemudian diserap ke dalam bahasa Latin menjadi "sandalium", lalu ke bahasa Prancis "sandale", dan akhirnya masuk ke dalam berbagai bahasa di dunia .
Peradaban Mesir Kuno mencatat sejarah penting tentang sandal. Hieroglif tertua dari Mesir menggambarkan kisah tentang pembuat sandal, terukir dalam sejumlah makam. Raja Menes yang berkuasa pada 3100 SM konon selalu membawa pengrajin sandal ke mana pun ia pergi .
Sandal pada masa itu umumnya terbuat dari bahan-bahan alami seperti kayu, kulit kambing, atau serat dari tanaman papirus dan palem. Para pendeta Mesir kuno bahkan mewajibkan sandal papirus sebagai bagian dari dresscode mereka .
Sementara itu, bangsa Sumeria di Mesopotamia (kini Irak) sekitar 6000 SM telah mengembangkan sandal dari kulit binatang. Para pengrajin alas kaki di peradaban ini menunjukkan kemajuan teknologi dalam pengolahan bahan baku .
Dalam kebudayaan Yunani kuno, sandal memiliki nilai filosofis yang tinggi. Para filsuf seperti Socrates dan Plato dikenal sering berjalan tanpa alas kaki, namun ketika menghadiri acara-acara penting mereka mengenakan sandal . Sandal khas Yunani yang disebut kothurnus memiliki telapak tebal seperti lapisan gabus, digunakan oleh aktor teater pada 1000-700 SM .
Di era kekaisaran Romawi, sandal tidak lagi sekadar pelindung kaki tetapi juga menjadi penanda status sosial. Julius Caesar, sang kaisar, memilih sandal dengan warna merah dan ungu—warna yang sama dikenakan oleh keturunannya. Sementara Poppaea, istri Kaisar Nero, mengenakan sandal yang terbuat dari emas dengan tatahan batu-batu berharga .
"Pada masa itu, warna sandal menjadi pembeda status," catat Maria Eugenia dalam tulisannya tentang sejarah sandal Romawi .
Para gladiator Romawi juga menggunakan sandal dari kulit untuk bertarung di arena, meskipun beberapa sumber menyebutkan bahwa prajurit infanteri kadang ditugaskan bertempur tanpa alas kaki .
Setiap peradaban mengembangkan sandal dengan karakteristik unik sesuai kebutuhan dan budaya setempat.
Di Jepang, sandal geta dari kayu dengan dua hak setinggi 4-5 sentimeter berkembang pada era Heian (794-1194). Desain ini berfungsi untuk menghindarkan kain kimono dari kotoran tanah saat berjalan. Selain geta, kaum samurai Jepang menggunakan waraji, sandal anyaman jerami atau tali .
Sandal espadrille dari Spanyol yang terbuat dari anyaman jerami dan bahan linen populer di wilayah Prancis selatan, Spanyol, dan Portugal. Uniknya, sebelum dianyam menjadi sandal, tanaman esparto terlebih dahulu dibakar untuk mendapatkan serat yang ulet .
Di India, Jalur Sutra membawa pengaruh terhadap persebaran pola dasar sandal. Sejak 3000 SM, daerah Chappal, India, terkenal sebagai pembuat sandal yang kemudian dikenal sebagai Chappli, terbuat dari kulit lembu, kambing, atau sapi .
Setelah Perang Dunia II, serdadu Amerika kembali ke negaranya dengan membawa zori—sandal jepit tradisional Jepang—sebagai buah tangan .
Meski sempat ditinggalkan karena berbahan karet murah yang bisa membuat lecet, sandal jenis ini tidak benar-benar tenggelam. Pada 1957, Morris Yock, pebisnis asal Selandia Baru, mematenkan produk sandal karetnya dengan nama "Jandal"—singkatan dari "Japan" dan "Sandal" .
Perkembangan industri plastik ikut andil dalam produksi massal sandal berharga murah. Jepang mempelopori teknologi ini, kemudian pada 1950-an, teknik cetak baru yang menggabungkan karet dan plastik diperkenalkan di Taiwan. Hingga saat ini, sandal jepit menjadi model sandal yang paling banyak ditemui di seluruh dunia .
Di Indonesia sendiri, sandal telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari sandal jepit yang praktis, sandal bandol dari ban bekas yang ramah lingkungan, hingga sandal gunung untuk aktivitas outdoor .
Meski terkesan sederhana, sandal menyimpan nilai lebih dalam kehidupan manusia. Dalam diskusi-diskusi informal, sandal bahkan dianggap memiliki nilai filosofis sebagai "landasan dasar pijakan" yang mengingatkan betapa tipisnya jarak manusia dengan bumi .
Dari gua-gua prasejarah di Amerika dan Spanyol, hingga pusat perbelanjaan modern di seluruh dunia, sandal telah membuktikan diri sebagai salah satu penemuan paling esensial dalam sejarah peradaban manusia. Ia hadir dalam berbagai bentuk, bahan, dan fungsi, namun tetap mempertahankan esensi dasarnya: melindungi kaki manusia dalam setiap langkah perjalanan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....