Isu Fatherless dalam Film Suka Duka Tawa
- 22 Jan 2026 07:19 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong- Film Suka Duka Tawa menjadi film komedi drama yang menjadi pembuka di awal tahun 2026. Film ini disutradari oleh Aco Tenri dan tayang di bioskop Indonesia pada 8 Januari 2026 . Film ini bukan cuma soal komedi namun juga terselip kisah yang mengharukan. Film ini seolah-olah memberikan isyarat kepada penonton bahwa di bali gelak tawa seorang komedian tersimpan luka-luka yang mengendap.
Film ini mengisahkan tentang Tawa yang diperankan oleh Rachel Amanda. Tawa adalah seorang komika yang baru saja memulai karirnya. Ia memulai karirnya lewat panggung-panggung kecil seperti di kafe. Namun pekerjaan ini dirasa belum memberikan apa yang ia inginkan sehingga membuatnya harus menekuni pekerjaan lain secara serabutan demi bertahan hidup bersama ibunya Indah alias Cantik yang diperankan oleh Marrisa Anita. Pada akhirnya Tawa mengalami kenaikan popularitas ketika ia menjadikan trauma dan aib ayahnya Hasan yang diperankan Rifnu Wikana sebagai materi stand up komendinya.
Disamping memiliki daya tarik di komedinya film ini juga menarik karena isu fatherless yang diangkat. Isu fatherless kini populer di kalangan Gen Z. Fatherless atau ketidakhadiran sosok ayah ini diangkat dalam film Suka Duka Tawa tanpa menghakimi. Dalam film ini tidak menjadikan salah satu peran yang menjadi penjahat.
Fatherless dalam film Suka Duka Tawa diangkat secara getir melalui komedi yang gelap. Tokoh utama yakni Tawa berhasil meluapkan segala lukanya karena absennya sosok Ayah dalam hidupnya. Film ini menciptakan keseimbangan antara gelak tawa dan air mata. Dalam film ini menunjukkan bahwa fatherless ini bukan perkara fisik tapi juga emosional. Sosok ayah bisa dianggap tidak hadir dalam kehidupan bukan hanya secara fisik namun bisa jadi tidak hadir dalam emosinal sang anak.
| Baca juga: Indonesia Memiliki Film Festival Kelas Dunia |
Sutradari Suka Duka Tawa ini memperkenalkan istilah "Yatim Pasif" untuk menggambarkan anak yang memiliki ayah namun tidak tersentuh kasih sayangnya. Sebuah kondisi yang anyak anak-anak alami dan menyakitkan. Dalam film ini Tawa diceritakan tumbuh tanpa bimbingan sang ayah. Ayahnya diceritakan masih hidup namun tidak mendampingi tawa secara emosional. Konflik ini menciptakan luka mendalam dan menimbulkan masalah identitas.
Dalam film ini panggung komedi diceritakan menjadi terapi dan wadah Tawa dalam memproses trauma, mengubah penderitaan Tawa menjadi bahan tertawaan yang jujur dan menyentuh. Tawa memang diceritakan sebagai anak yang mengalami kesulitan emosional, kerinduan, dan berjuang tanpa figus sang ayah. Namun dalam film ini luka yang di alami tawa tidak disajikan dalam drama yang berat melainkan lewat komedi. Film ini sangat relevan dengan fenomena fatherless di Indonesia. Dimana banyak anak yang mengalami ketidakhadiran sosok ayah meski ayah hadir secara fisik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....