Sejarah hari ini, 31 Juli 1917: Tragedi Pertempuran Passchendaele

  • 31 Jul 2026 12:04 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Pada 31 Juli 1917, Sekutu melancarkan salah satu serangan paling dahsyat dan berdarah dalam sejarah Perang Dunia I: Pertempuran Passchendaele (dikenal secara resmi sebagai Pertempuran Ypres Ketiga). Berlangsung di dataran Flanders, Belgia, pertempuran ini bertahan hingga November 1917 dan menjadi simbol utama penderitaan serta kesia-siaan perang parit modern.

1. Latar Belakang & Ambisi Strategis

Pada pertengahan tahun 1917, situasi Sekutu berada dalam kondisi kritis. Prancis mengalami gelombang pembangkangan militer (mutiny), sementara Kekaisaran Rusia mulai runtuh akibat revolusi internal.

Panglima Tertinggi Sekutu asal Inggris, Jenderal Field Marshal Douglas Haig, merancang serangan besar di Belgia dengan tiga tujuan utama:

  • Menerobos Pertahanan Jerman: Menghancurkan garis pertahanan Jerman di Flanders dan merebut bukit strategis Passchendaele.

  • Menguasai Pelabuhan Kapal Selam: Menguasai pangkalan kapal selam Jerman di Bruges dan Ostend yang menghancurkan kapal-kapal sekutu di Samudra Atlantik.

  • Mengurangi Tekanan pada Pasukan Prancis: Menarik perhatian kekuatan militer Jerman agar tentara Prancis memiliki waktu untuk memulihkan kondisi.

2. Musuh Terbesar: Lautan Lumpur Pekat

Niat awal sekutu untuk melakukan serangan cepat hancur akibat kombinasi faktor teknis dan cuaca yang tidak menguntungkan:

  1. Kehancuran Sistem Drainase: Sebelum pasukan infantri bergerak pada subuh 31 Juli, artileri Sekutu menembakkan lebih dari 4,2 juta amunisi selama dua minggu. Pengeboman ini merusak total saluran drainase alami dataran rendah Flanders.

  2. Hujan Lebat Terburuk dalam 30 Tahun: Tepat ketika serangan dimulai pada 31 Juli, hujan deras mengguyur wilayah tersebut dan terus berlangsung selama berminggu-minggu.

  3. Lautan Lumpur Penghisap: Kombinasi tanah yang hancur dan air hujan mengubah medan perang menjadi rawa lumpur tebal yang pekat. Banyak prajurit, kuda, dan bahkan tank terperosok lalu tenggelam hidup-hidup di dalam lumpur.

3. Jalur Kronologi Pertempuran

Awal Serangan (31 Juli 1917)

31 Juli 1917

Pasukan Inggris dan Prancis melancarkan serangan utama. Kemajuan awal terhambat oleh hujan deras dan pertahanan senapan mesin Jerman yang kokoh di dalam bungker-bungker beton (pillboxes).

Perubahan Taktik oleh General Plumer

September 1917

Jenderal Herbert Plumer mengambil alih komando taktis. Ia menerapkan strategi "Bite and Hold"—merebut target kecil bernilai strategis dengan perlindungan artileri intensif alih-alih mencoba menerobos langsung.

Serangan Pasukan Kanada & Anzac

Oktober 1917

Pasukan Korps Kanada serta Pasukan Australia-Selandia Baru (ANZAC) dikirim ke garis depan untuk memimpin dorongan terakhir menuju dataran tinggi Passchendaele di tengah kondisi medan yang makin memburuk.

Perebutan Passchendaele & Akhir Perang

6-10 November 1917

Divisi Kanada berhasil merebut sisa-sisa reruntuhan Desa Passchendaele. Pertempuran dihentikan secara resmi pada 10 November 1917 setelah Sekutu berhasil mengamankan area bukit tersebut.

4. Dampak dan Korban Jiwa

Pertempuran selama 103 hari ini memakan korban jiwa yang sangat besar dengan hasil strategis yang minim:

Kategori

Rincian

Total Korban Sekutu

± 275.000 hingga 300.000 prajurit (Tewas, Luka-luka, Hilang)

Total Korban Jerman

± 200.000 hingga 260.000 prajurit

Wilayah yang Direbut

Hanya sekitar 8 kilometer tanah lumpur yang hancur total

Hasil Strategis

Pelabuhan kapal selam Jerman tidak berhasil dikuasai. Wilayah yang direbut kembali ditinggalkan tanpa perlawanan pada tahun berikutnya saat Jerman melancarkan Serangan Musim Semi (1918).

Passchendaele kini dikenang bukan hanya sebagai episode pertempuran militer, melainkan sebagai monumen tragedi kemanusiaan Perang Dunia I. Pertempuran ini menegaskan betapa mahalnya harga humaniter yang harus dibayar akibat perang artileri dan perang parit di abad ke-20

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....