Menyemai Harapan Baru Bagi Anak Putus Sekolah di Kabupaten Sorong Selatan

  • 09 Jun 2026 07:02 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID Teminabuan - Di sudut terpencil Kampung Any, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, sebuah sekolah dengan kondisi memprihatinkan mulai berdenyut pada tahun 2024. Tanpa gedung sendiri, SMAN 2 Teminabuan hanya bermodalkan tujuh siswa, tiga guru honorer, serta tekad bulat dari kepala sekolah yang merangkap tugas.

Saat ditemui RRI, Kepala Sekolah SMAN 2 Teminabuan, Romeo E. W. Pattipeilohy, mengungkapkan alasan di balik inisiatif sekolahnya: "Kami melakukan jemput bola karena sebagian besar anak putus sekolah ini adalah anak bangsa dan anak asli Papua yang berhak mendapat pendidikan. Banyak sekolah menolak mereka karena latar belakang negatif, kenakalan remaja, atau keterbatasan ekonomi. Kami hadir untuk menyelamatkan anak-anak ini agar mereka bisa memiliki masa depan yang lebih baik," kata Kepala Sekolah SMAN 2 Teminabuan.

Perjuangan mereka dimulai dengan cara yang tidak biasa, yakni dengan jemput bola mendatangi rumah-rumah keluarga kurang mampu untuk merangkul kembali anak-anak yang putus sekolah. Bahkan, kepala sekolah rela turun tangan secara pribadi menjemput siswa agar mereka bisa hadir dan mengikuti proses belajar di tengah jeratan kemiskinan ekstrem yang membelenggu.

Mengenai inovasi pendidikan yang diterapkan, Romeo menjelaskan sekolah menerapkan program double track untuk membekali siswa dengan vokasi atau keterampilan praktis. Program ini menciptakan pembelajaran yang bermanfaat, di mana unsur vokasinya terintegrasi dengan mata pelajaran lain. Dengan lingkungan yang aman dan nyaman, siswa merasa tertantang dan antusias untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Tidak hanya memberikan pendidikan akademik, SMAN 2 Teminabuan menghadirkan inovasi melalui program double track agar siswa memiliki keterampilan praktis seperti memasak dan bercocok tanam. Inovasi ini menjadi solusi strategis bagi para siswa yang terkendala ekonomi untuk melanjutkan pendidikan tinggi, sehingga mereka tetap memiliki peluang untuk mandiri dan menghidupi keluarga di masa depan.

Melalui pendekatan charity to dignity, pihak sekolah mengubah pandangan dari sekadar bantuan sosial menjadi upaya mengembalikan martabat serta rasa percaya diri generasi muda ini. Terkait dampak dari program tersebut, Romeo menambahkan sejak ada double track mental dan rasa percaya diri siswa terus bertumbuh positif. "Mereka yang dulunya enggan sekolah, kini menjadi aktif dan memiliki semangat yang luar biasa untuk menggapai cita-cita mereka. Sisi positif ini terlihat jelas dalam perilaku dan tingkah laku mereka selama proses belajar mengajar," ungkapnya.

Kini, SMAN 2 Teminabuan telah bertransformasi menjadi pusat harapan baru, dengan jumlah siswa yang meningkat pesat dari 7 menjadi 53 anak dalam waktu kurang dari dua tahun. Kepercayaan masyarakat pun tumbuh kuat, membuktikan bahwa perjuangan besar tidak selalu menuntut bangunan modern atau teknologi canggih, melainkan keyakinan bahwa setiap anak itu berharga.

SMAN 2 Teminabuan telah membuktikan bahwa sekolah yang memilih inklusivitas dan kasih sayang mampu mengantarkan anak-anak yang paling rentan sekalipun meraih kesuksesan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....