Masyarakat Adat Bariat Kembangkan Ekowisata Hutan Damar

  • 17 Sep 2026 12:19 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, SORONG SELATAN - Masyarakat adat Kampung Bariat, Distrik Konda, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, mulai mengembangkan potensi ekowisata berbasis hutan adat.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni membangun fasilitas penginapan atau homestay bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam dan kehidupan masyarakat adat di kawasan tersebut.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bariat, Yance Konjol, mengatakan gagasan pengembangan kampung wisata tersebut mulai dibahas bersama masyarakat sejak 2024.

"Pertemuan awal itu sudah mulai berdirinya wisata. Dari situ sudah dibentuk pengurus dan perencanaan," kata Yance saat diwawancarai, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, Kampung Wisata Bariat kemudian mulai berkembang pada 2025 dengan pembangunan sejumlah fasilitas pendukung.

Di antaranya area penginapan berupa homestay, rumah tumbuh, restoran hingga dapur untuk melayani kebutuhan wisatawan.

"Homestay sudah ada. Tamu lokal dan juga tim media dari Jakarta sudah pernah datang. Mereka tinggal selama empat hari," ujarnya.

Yance menjelaskan, kawasan wisata Bariat memiliki sejumlah daya tarik yang ditawarkan kepada pengunjung.

Selain hutan damar, wisatawan dapat melihat aktivitas masyarakat dalam mengolah sagu, menikmati keanekaragaman burung, hingga mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

Potensi budaya masyarakat adat juga menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan.

Wisatawan nantinya dapat menikmati masakan lokal serta menyaksikan berbagai tradisi masyarakat.

"Kami punya hutan damar, pangkur sagu, tanaman burung, tempat-tempat keramat dan tradisi budaya. Ada juga masakan budaya dan makanan lokal," jelasnya.

Sagu Bakar Jadi Sajian Wisatawan

Potensi sagu juga tidak sepenuhnya dipisahkan dari ekowisata Bariat.

Yance mengatakan produk berbahan sagu telah mulai disiapkan sebagai bagian dari sajian bagi wisatawan.

Salah satunya adalah sagu bakar yang dimasak menggunakan bambu maupun peralatan tradisional.

"Sudah kami sajikan. Ada sagu bakar yang diisi di bambu," katanya.

Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya diajak menikmati keindahan hutan, tetapi juga mengenal pangan lokal dan budaya masyarakat adat Bariat.

Tantangan Perkebunan Kelapa Sawit

Di tengah pengembangan kampung wisata, masyarakat adat Bariat masih menghadapi tantangan terkait rencana masuknya perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Yance mengatakan masyarakat Bariat menolak rencana tersebut karena khawatir terhadap keberadaan hutan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan pengembangan ekowisata.

"Ini tantangan yang kami hadapi, perusahaan kelapa sawit. Kami keras menolak. Kami sudah beberapa kali melakukan aksi penolakan," ujarnya.

Ia mengatakan masyarakat juga telah memiliki dokumen keputusan terkait penolakan terhadap rencana tersebut.

Menurut Yance, persoalan tersebut bahkan telah menjadi perhatian pemerintah daerah. Beberapa kepala kampung disebut telah dipanggil untuk membahas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Yance menilai keberadaan kawasan hutan sangat penting untuk dipertahankan karena wilayah tersebut tidak terlalu luas.

"Kalau dilihat dari sketsa yang kami punya, hutannya kecil sekali. Tidak luas. Makanya kami pertahankan," katanya.

Ia menambahkan, masyarakat Bariat akan kembali melakukan pertemuan untuk membahas langkah penolakan terhadap rencana perkebunan kelapa sawit.

Menunggu Launching Kampung Wisata

Meski fasilitas homestay telah tersedia dan sejumlah tamu pernah berkunjung, pelayanan wisata di Kampung Bariat belum berjalan secara penuh.

Pokdarwis masih menunggu proses launching kampung wisata yang akan menjadi momentum untuk membuka layanan kepada wisatawan secara lebih luas.

"Untuk sementara belum ada tamu karena belum ada launching. Nanti setelah launching mungkin tamu lokal sudah bisa datang," jelas Yance.

Dari sisi akses, Yance mengatakan jalan menuju Kampung Bariat masih dapat dilalui kendaraan meskipun belum seluruhnya dalam kondisi beraspal.

Sejumlah titik jalan sempat mengalami kerusakan akibat hujan, namun proses penimbunan dan perbaikan terus dilakukan.

Dengan fasilitas homestay, potensi hutan damar, budaya masyarakat adat, kuliner lokal, serta keterhubungan dengan wisata sagu, masyarakat berharap Kampung Wisata Bariat dapat menjadi salah satu tujuan ekowisata berbasis masyarakat adat di Kabupaten Sorong Selatan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....