UNIMUDA Hadirkan Smart Greenhouse, Kapasitas Bibit Naik Empat Kali

  • 24 Agt 2026 14:18 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, SORONG - Transformasi pertanian Papua tidak lagi sekadar menjadi wacana. Dari Kelurahan Aimas, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, sebuah inovasi konkret mulai menunjukkan hasil. Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menghadirkan Smart Greenhouse Nursery pada Kelompok Tani Papua Farm sebagai langkah strategis memperkuat produksi hortikultura, meningkatkan kapasitas petani, dan mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.

Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong transformasi pertanian masyarakat Papua memasuki babak baru. Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Melalui Program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menghadirkan Smart Greenhouse Nursery pada Kelompok Tani Papua Farm di Kelurahan Aimas, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Program ini menjadi bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang digagas oleh tim UNIMUDA Sorong: Yoga Andriyan, Aldila Mawanti Athirah, dan Dian Nitari Ribanor Sabarudin bekerja sama dengan Kemendiktisaintek dan Papua Farm.

Program yang mengusung tema “Penerapan Smart Greenhouse Nursery pada Kelompok Tani Papua Farm Berbasis Tata Kelola Hijau dalam Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan” tersebut dirancang sebagai lebih dari sekadar pembangunan fasilitas pembibitan. Program ini mengintegrasikan teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, SOP, administrasi pembibitan, efisiensi sumber daya, serta tata kelola lingkungan dalam satu model pemberdayaan masyarakat.

Potensi Besar, Permintaan Pasar Menanti

Papua Farm merupakan kelompok tani yang beranggotakan 24 orang dan telah mengembangkan budidaya selada hidroponik sejak 2019. Kelompok ini memiliki lahan produksi sekitar 575 meter persegi dan lima unit greenhouse. Produktivitas Papua Farm telah mencapai sekitar 750 kilogram sayuran hidroponik per bulan. Namun, permintaan pasar justru berada pada kisaran 1 ton per bulan.

Kesenjangan sekitar 250 kilogram per bulan tersebut menunjukkan satu hal penting: pasar tersedia, tetapi kapasitas produksi masih perlu diperkuat. Permintaan produk Papua Farm berasal dari berbagai segmen, termasuk perhotelan, restoran, rumah makan, supermarket, dan pasar lainnya. Kondisi ini menjadi peluang ekonomi sekaligus tantangan bagi kelompok tani untuk meningkatkan kemampuan produksi secara konsisten. Namun, tim pengabdian menemukan bahwa penguatan produksi tidak cukup dilakukan pada tahap panen atau budidaya. Persoalan justru harus diselesaikan sejak tahap paling awal, yakni pembibitan.

Membenahi Hulu untuk Menguatkan Hilir

Sebelum program dilaksanakan, kapasitas penyemaian Papua Farm masih sekitar 2.000 benih. Kondisi ruang pembibitan juga belum optimal dalam hal ventilasi, pencahayaan, suhu, kelembapan, dan pemanfaatan ruang.

Di sisi manajemen, kelompok juga belum memiliki SOP greenhouse nursery yang tertata serta sistem administrasi pembibitan yang sistematis, khususnya pencatatan jumlah bibit dan jadwal perawatan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dibenahi untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi. Atas dasar persoalan tersebut, UNIMUDA Sorong bersama Papua Farm menyusun solusi melalui penerapan Smart Greenhouse Nursery.

Teknologi yang diterapkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mitra. Sistem tersebut memanfaatkan sensor suhu dan kelembapan, lampu LED grow light, timer pencahayaan, serta timer atau saklar otomatis untuk membantu pengaturan irigasi. Teknologi dipilih bukan karena kompleksitasnya, tetapi karena kemanfaatan dan keberlanjutannya.

Prinsipnya jelas, teknologi harus dapat dipahami, digunakan, dirawat, dan dikembangkan oleh petani sendiri. Empat Kali Lipat dari 2.000 Menjadi 8.000 Benih. Salah satu capaian utama program ini adalah peningkatan kapasitas penyemaian.

Dari kondisi awal sekitar 2.000 benih, kapasitas pembibitan ditingkatkan hingga 8.000 benih. Dengan demikian, kapasitas penyemaian meningkat empat kali lipat.

Peningkatan tersebut menjadi sangat penting karena pembibitan merupakan fondasi kesinambungan produksi. Semakin kuat kapasitas pembibitan, semakin besar pula peluang kelompok untuk menjaga kontinuitas produksi dan memenuhi permintaan pasar. Namun, bagi tim pengabdian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah bibit. Yang jauh lebih penting adalah siapa yang mampu mengelola teknologi tersebut setelah program selesai.

Petani Tidak Hanya Menerima Teknologi, tetapi Menguasainya

Karena itu, kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui rangkaian sosialisasi, Focus Group Discussion (FGD), pelatihan, praktik lapangan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Pendekatan pembelajaran menggunakan komposisi sekitar 30 persen teori dan 70 persen praktik, sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan konseptual, tetapi langsung berlatih mengoperasikan perangkat dan mengelola nursery. Peserta dilatih memahami sistem pembibitan, mengoperasikan teknologi, menerapkan SOP, melakukan pencatatan, serta memantau kondisi lingkungan greenhouse.

Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang signifikan. Pemahaman peserta terhadap SOP Smart Greenhouse Nursery meningkat dari 20 persen menjadi 80 persen. Perubahan tersebut menghasilkan N-Gain sebesar 0,75, yang termasuk dalam kategori peningkatan tinggi. Artinya, program tidak hanya menghasilkan sebuah fasilitas baru, tetapi juga meningkatkan kapasitas manusia yang menjadi penggerak utama fasilitas tersebut.

Smart Greenhouse Bertemu Tata Kelola Hijau

Inovasi yang dibangun UNIMUDA Sorong tidak berhenti pada penggunaan sensor dan timer. Program juga mengintegrasikan konsep tata kelola hijau. Pengelolaan air, energi, media tanam, limbah, ventilasi, suhu, kelembapan, pengendalian hama, hingga administrasi pembibitan menjadi bagian dari sistem yang diperkuat. Kelompok tani juga diarahkan untuk menggunakan SOP greenhouse nursery sebagai pedoman kerja bersama dan melakukan pencatatan jumlah bibit serta jadwal perawatan.

Dengan pendekatan ini, Smart Greenhouse Nursery menjadi lebih dari sekadar bangunan. Ia menjadi sistem produksi. Ia menjadi ruang pembelajaran dan ia menjadi instrumen perubahan tata kelola kelompok tani.

Mendorong Anak Muda Papua Masuk ke Pertanian Modern

Program tersebut juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Sekitar 80 persen anggota kelompok merupakan anak muda, sementara perempuan juga terlibat dalam aktivitas kelompok tani. Kondisi ini menjadi modal penting dalam membangun masa depan pertanian Papua. Smart Greenhouse Nursery menunjukkan bahwa pertanian dapat bertransformasi menjadi sektor yang dekat dengan teknologi, inovasi, kewirausahaan, dan pengelolaan berbasis data. Anak muda tidak harus meninggalkan sektor pertanian untuk mendapatkan masa depan.

Sebaliknya, mereka dapat menjadi petani modern, pengelola teknologi, inovator, sekaligus pelaku usaha pangan lokal.

Dari Aimas, Sebuah Model Sedang Dibangun

Program Smart Greenhouse Nursery Papua Farm pada akhirnya membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan sebuah kegiatan pengabdian. Program ini menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menyelesaikan persoalan nyata. Perguruan tinggi membawa ilmu pengetahuan dan teknologi. Petani membawa pengalaman, kebutuhan, dan pengetahuan lokal. Keduanya dipertemukan untuk menghasilkan solusi yang dapat digunakan secara nyata.

Dari sinergi tersebut lahir sebuah model pembibitan yang menggabungkan teknologi tepat guna, peningkatan kompetensi, tata kelola hijau, administrasi, dan keberlanjutan. Model tersebut memiliki peluang untuk terus dikembangkan dan direplikasi pada kelompok tani lainnya di Kabupaten Sorong dan Papua Barat Daya.

Bukan Sekadar Menanam Benih, tetapi Menanam Masa Depan

Apa yang dimulai di Aimas mungkin terlihat sederhana: sebuah greenhouse, bibit, sensor, lampu, air, dan petani. Namun, di balik semua itu terdapat gagasan besar tentang masa depan pertanian Papua. Tentang masyarakat lokal yang mampu menguasai teknologi. Tentang anak muda yang melihat pertanian sebagai peluang. Tentang kelompok tani yang tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun sistem produksi dan tentang perguruan tinggi yang hadir bukan hanya di ruang kelas, tetapi turun langsung ke tengah masyarakat untuk menghadirkan solusi.

Dari Aimas, Kabupaten Sorong UNIMUDA Sorong bersama Papua Farm sedang menanam lebih dari sekadar benih. Mereka sedang menanam pengetahuan, Menanam inovasi, Menanam kemandirian dan menanam fondasi bagi masa depan pertanian Papua yang modern, produktif, dan berkelanjutan.

“Dari Kabupaten Sorong untuk Papua: teknologi tumbuh, petani berdaya, pangan terjaga.”

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....