Pemanfaatan Mooring di Raja Ampat Jadi Percontohan di Program ReSea
- 12 Feb 2026 14:48 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Waisai - Delegasi tujuh negera mengunjungi Kabupaten Raja Ampat dalam program ReSea atau Regenerative Seascapes for People, Climate, and Nature. Perwakilan negara dari kawasan Afrika, Asia Selatan, dan Kepulauan Samudra Hindia ini ingin mempelajari pengelolaan kawasan Konservasi di wilayah bentang laut kepala burung atau bird's head seascape, Provinsi Papua Barat Daya, khususnya Raja Ampat.
Selama di Raja Ampat, perwakilan tujuh negara ini mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Pyainemo, Arborek, Pulau Kri, serta ke Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat.
Menteri Muda Agro-industri, Ketahanan Pangan, Ekonomi Biru, dan Perikanan, Republik Mauritius, Gilles Fabrice David, usai kunjungan ke Kantor BLUD UPTD, Rabu, 11 Februari 2026, mengaku terhormat dan bangga mengunjungi Indonsia, khususnya Kepulauan Raja Ampat. Indonesia dan Mauritius adalah sama-sama negara kepulauan.
"Mauritius dan Indonesia memilki kesamaan tantangan, visi serta cita-cita dalam menjaga kekayaan laut dan ekosistem yang ada di dalamnya," kata David kepada media.
Menurut dia, negaranya mempelajari banyak hal dengan kunjungan ke Raja Ampat. Ada beberapa model yang nantinya akan diaplikasilan ke negaranya, terutama dalam pengelolaan kawasan konservasi laut dan penjagaan atas kekayaan biodiversitas.
"Salah satunya adalah penggunaan alat mooring buoy yang sederhana tapi memiki manfaat luar biasa dalam melindungi terumbu karang dari kerusakan. Ini yang akan coba kami tiru dan terapkan di Mauritius," ujarnya.
David menambahkan bahwa masyarakat dan perwakilan pemerintahan di Raja Ampat sangat ramah dan hangat selama berinterkasi dengan perwakilan nagara peserta program ReaSea. Pihaknya menyampaikan terima kasih atas sambutan yang luar biasa.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Madagaskar, Manesimana Michael Fanomezantsoa mengungkapkan hal seruap bahwa timnya mempelajari banyak hal dengan kunjungan ke Raja Ampat, terutama dalam pengelolaan lingkungan konservasi dan pariwisata berbasis ekologi atau ekowisata. Wilayah Raja Ampat juga menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan wilayah konservasi yang juga melibatkan masyarakat lokal.
Ia menilai Madagaskar dan Indonesia, terutama Raja Ampat memiliki kesamaan ekosistem dan memiliki hutan mangrove yang sangat luas. Pihaknya akan meniru apa yang menjadi keberhasilan di Raja Ampat, terutama dalam menjaga ekosistem pesisir dan terumbu karang.
Selain dari Madagaskan dan Mauritius, delegasi negara lainnya yang hadir adalah Komoro, Sri Lanka, Tanzania dan Zanzibar, Kenya, dan Mozambik. Program internasional ini juga diikuti lembaga internasional; Conservation International, International Union for Conservation of Nature (IUCN), Mission Inclusion, UNECA (Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika), serta Fauna & Flora International (FFI). Kegiatan pertukaran pengetahuan global di wilayah Papua Barat Daya ini berlangsung sejak 9 Februari hingga 12 Februari 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....