Mengenal Masakan Suku Lapago dan Mepago di Papua
- 15 Des 2023 22:17 WIB
- Sorong
KBRN, Sorong : Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas menu yang disajikan di saat resepsi perayaan hari besar keagamaan. Seperti halnya ciri khas menu suku Lapago dan Mepago di Papua. Menjelang hari Natal tahun 2023 ini, saya diundang untuk hadir dalam perayaan natal kedua suku itu di kota Sorong. Penasaran karena dalam ibadah itu dilakukan "bakar batu" atau suatu tradisi cara masak suku Lapago dan Mepago disetiap dilakukan hajatan atau acara.
Ketika sampai ditempat acara menjelang malam dipinggiran kota Sorong, terlihat sekelompok pemuda mengatur lalulintas sambil memegang busur dan anak panah. Nuansanya cekup seram, sehingga banyak kendaraan balik arah mungkin karena ketakutan. Padahal para pemuda itu sangat ramah setiap tamu yang datang.
"Hormat ade". Sapaku pada sekelompok pemuda yang berdiri didepan pintu yang ditugaskan menerima tamu. Dengan ramah dan bersahabat satu orang pemuda mengantar saya sampai ditempat duduk paling depan. Dideretan kursi terdapat kepala suku Lapago dan Mapago, hamba-hamba Tuhan dan tokoh masyarakat Papua diantaranya Mayjend Purnawirawan Joppy Wayangkau.
Tempat duduk belum memanas, tak lama pemimpin liturgi mengundang Pendeta membawakan khotbah yang diambil dalam Injil Lukas yang menceriterakan kasih Allah pada manusia dan damai sejahtera di bumi. Ibadah sedang berlangsung, di dalam hati bertanya dimana tempat acara bakar batu. Sedikit berbisik salah satu hamba Tuhan, "bapa, kabarnya dalam ibadah natal ini diadakan bakar batu," dengan nada sedikit berbisik dia katakan acara bakar batu sudah selesai satu jam yang lalu. Ingin membuktikan informasi itu, saya keluar sebentar dari tenda dan ternyata di bagian belakang acara sudah tertumpuk potongan daging babi yang sudah di masak dengan menggunakan batu.
"Daging babi ini ada 8 ekor bapa" kata seorang mama menanggapi tertanyaan saya. Potongan daging babi pada saat jam makan dibawa panitia untuk dibagi disetiap kelompok.
Penjelasan seorang mama, ternyata betul. Usai ibadah, deretan kursi yang ditempati anggota jemaat langsung disusun dan dikeluarkan dari dalam tenda. Jemaat dan undang yang hadir diperintahkan membuat kelompok dan langsung duduk dirumput. Tidak terlalu lama, kelompok pemuda datang sambil berlari membagi rumput yang sudah mengering tengah lingkaran kelompok warga. Rupanya rumput itu, menjadi pembatas umbi-umbian, sayur dan daging yang dimasak dengan batu.
Rumput kering yang dibagi lalu diatur sedikit rapi untuk dijadikan tempat makanan dan potongan daging babi. Setelah tahapan persiapan sudah matang, lalu dilakukan pembagian umbi-umbian dan potongan daging babi yang sudah matang dari dalam lubang.
"Silakan menikmati bapa" kata kepala suku Lapago Ruddy Kogoya.
Makanan seperti umbi- umbian dan daging babi yang dimasak didalam lubang menggunakan media batu yang dipanaskan, rasanya memiliki cita rasa yang khas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....