Mengenal Asal-Usul Baju Adat Jawa: Dari Era Kerajaan hingga Makna Filosofis

  • 31 Agt 2026 19:44 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Baju adat Jawa memiliki sejarah panjang yang berakar kuat dari era kerajaan Nusantara seperti Kediri, Majapahit, hingga puncaknya pada masa Kesultanan Mataram Islam. Tak sekadar pakaian, setiap helai busana tradisional Jawa menyimpan nilai filosofi hidup dan simbol religiusitas yang mendalam.

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha (abad ke-8 hingga 15), busana masyarakat Jawa masih relatif sederhana berupa kain jarik yang dililitkan di pinggang. Seiring berkembangnya ajaran Islam pada abad ke-16, konsep menutup aurat diperkenalkan, sehingga memicu lahirnya atasan tertutup seperti Kebaya untuk wanita dan Surjan untuk pria.

Perkembangan penting terjadi pasca Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Peristiwa ini melahirkan dua pakem gaya busana adat Jawa utama, yaitu Gaya Surakarta (Solo) dan Gaya Yogyakarta.

Ragam Jenis dan Asal-Usul:

  • Kebaya: Berasal dari kata bahasa Arab 'Aba' (pakaian tertutup), dipopulerkan oleh kalangan bangsawan wanita sebagai wujud keanggunan dan kesopanan.
  • Surjan: Diciptakan oleh Sunan Kalijaga dengan motif lurik garis-garis yang melambangkan kesederhanaan serta siraja janan (pelita hati).
  • Beskap: Baju formal pria yang mengadopsi gaya pakaian militer opsir Eropa/Belanda pada abad ke-18 dan disesuaikan dengan pakem keraton.
  • Jarik & Batik: Kain bawahan bermotif penuh makna, melambangkan status sosial, doa, serta pedoman moral bagi pemakainya.

Hingga kini, keberadaan baju adat Jawa terus dilestarikan dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam prosesi adat, pernikahan, hingga gelaran acara kebudayaan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....