Viral di Medsos, Apa Itu Self-Defence Bias yang Ramai Dibahas?

  • 25 Mei 2026 10:11 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID – Sorong : Belakangan ini, lini masa media sosial di Indonesia—mulai dari TikTok, X (dulu Twitter), hingga Instagram—sedang diramaikan oleh sebuah istilah psikologi baru: Self-Defence Bias. Istilah ini mendadak trend dan menjadi bahasa gaul baru yang digunakan netizen untuk menggambarkan perilaku seseorang yang selalu membela diri dan enggan disalahkan.

Lantas, apa sebenarnya Self-Defence Bias itu, dan mengapa fenomena ini begitu cepat menjamur di Indonesia?

Apa itu Self-Defence Bias?

Dalam ranah psikologi, Self-Defence Bias (atau sering dikaitkan dengan self-serving bias) adalah kecenderungan kognitif di mana seseorang mengklaim kesuksesan sebagai hasil dari kerja keras atau kehebatan diri sendiri, namun melemparkan kegagalan kepada faktor eksternal atau orang lain.

Contoh Sederhana:

  • Saat sukses: "Gue emang pinter dan kerja keras, makanya proyek ini berhasil."

  • Saat gagal: "Ini gara-gara tim gue gak becus dan aplikasinya lagi error, makanya berantakan."

Di Indonesia, tren ini bergeser menjadi sebuah label untuk menyindir orang-orang yang "anti-kritik," selalu merasa benar, dan menggunakan tameng psikologis untuk melindungi ego mereka dari kesalahan.

Mengapa Jadi Tren di Indonesia?

Menurut para pengamat media sosial, ada beberapa alasan mengapa istilah ini langsung diadopsi secara massal oleh netizen tanah air:

  • Budaya "Gak Mau Kalah" di Kolom Komentar: Netizen Indonesia terkenal sangat vokal. Istilah Self-Defence Bias menjadi senjata baru dalam berdebat untuk menjatuhkan argumen lawan yang dianggap keras kepala.

  • Tren Konten POV dan Storytelling: Banyak content creator membuat video komedi atau edukasi yang memperagakan contoh perilaku ini di dunia kerja, pertemanan, hingga hubungan asmara (relationship).

  • Meningkatnya Kesadaran Kesehatan Mental: Anak muda Indonesia kini lebih melek istilah psikologi. Namun, efek sampingnya, istilah-istilah ini sering kali mengalami pergeseran makna untuk melabeli perilaku sehari-hari.

Dampak Positif vs. Negatif

Fenomena viralnya istilah ini tentu membawa dua sisi mata uang yang berbeda bagi masyarakat:

Sisi Positif

Sisi Negatif

Meningkatkan refleksi diri: Membuat orang lebih sadar apakah mereka selama ini sering mencari kambing hitam.

Labeling sembarangan: Mudah menuduh orang lain memiliki bias tanpa memahami konteks masalah sebenarnya.

Edukasi psikologi gratis: Membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang kesehatan mental dan kedewasaan emosional.

Senjata cyberbullying: Digunakan untuk menyerang orang yang sedang mempertahankan argumennya secara valid.

Tanggapan Psikolog: "Jangan Asal Labelling"

Menanggapi tren ini, psikolog klinis mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam tren asal sebut. Membela diri adalah mekanisme pertahanan ego yang manusiawi (defense mechanism), namun jika dilakukan secara berlebihan hingga memutarbalikkan fakta, barulah hal tersebut menjadi masalah kognitif yang merugikan.

"Mengenal istilah psikologi itu bagus untuk evaluasi diri sendiri, bukan untuk jadi hakim atas perilaku orang lain di media sosial," ujar salah satu pakar psikologi dalam sebuah utas yang viral di X.

Jadi, apakah kamu pernah menemui orang dengan Self-Defence Bias ini di sekitarmu, atau jangan-jangan... kita sendiri yang sering melakukannya tanpa sadar?

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....