Makna Filosofis Kain Poleng dalam Kehidupan Masyarakat Bali

  • 03 Mei 2026 07:48 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - ketika mengunjungi Bali kita akan menemui banyak pohon yang dibalut dengan kain persegi hitam putih bermotif kotak-kotak. Kain hitam putih itu dinamakan kain poleng Bali, mempresentasikan kearifan lokal yang masih melekat bagi masyarakat Bali dan erat kaitannya dengan kepercayaan dan budaya. Penggunaan kain poleng bermakna spiritual khusus bagi penganut agama Hindu di Bali. Banyak pohon yang dibalut dengan kain poleng dianggap sakral (Tenget) dan memiliki kekuatan magis menurut masyarakat lokal.

Hubungan Tri Hita Karana erat kaitannya dengan falsafah dalam agama Hindu. Berasal dari tiga penyebab terciptanya kebahagiaan manusia dari hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan alam (Palemahan) dan sesama manusia.

Pohon besar bagi masyarakat Bali diyakini menjadi tempat bersemayamnya sosok yang dapat menghitam-putihkan kehidupan di dunia. Kain poleng disematkan sebagai simbol penjagaan. Menjadi simbol bahwa tempat tersebut telah dikeramatkan atau diyakini memiliki kekuatan magis dan roh penjaga yang harus dihormati.

Secara tidak langsung masyarakat dilarang menebang atau merusak pohon tersebut sekaligus menjaga alam, ketersediaan oksigen dan resapan air dari pohon untuk hidup berkelanjutan. Pohon menjadi makhluk hidup yang patut dihormati dan menjadi bagian filosofi Bali hingga diwujudkan melalui upacara seperti Tumpek Wariga, Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatang. Dilakukan setiap enam bulan sekali, dua puluh hari sebelum galungan.

Penggunaan kain poleng menjadi cara penghayatan konsep Rwa Bhineda yang mengajarkan dualitas atau dua hal yang berlawan. Namun saling melengkapi dalam menciptakan keseimbangan alam semesta seperti baik-buruk dan siang-malam yang mengajarkan kehidupan seimbang. Menciptakan harmoni tanpa menghilangkan salah satunya melainkan dengan menyeimbangkan keduanya.

Kain poleng memiliki fungsi dalam kehidupan sosial. Digunakan pada Pecalang (Penjaga Keamanan) sebagai atribut atau seragam dan pengingat untuk waspada dan bertindak bijaksana dalam menjaga keseimbangan desa adat. Poleng digunakan pada patung (Dwarapala), Tedung (Patung Upacara), umbul-umbul hingga alat musik tradisional kulkul.

Kini penggunaan kain poleng berkembang menjadi identitas budaya khas Bali yang penggunaannya ditemukan di Hotel, Restoran dan tempat wisata dengan suasana Bali. Namun bagi masyarakat lokal lain kain poleng ini tetap diyakini sakral mengingat pesan untuk menjaga keseimbangan diri, kearifan luhur yang dihargai dan menghormati alam semesta yang menaunginya.

Pohon yang diberi kain poleng menjadi simbol spiritualitas yang mendalam bagi masyarakat Hindu Bali.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....