Melestarikan Warisan Leluhur : Makna tradisi Tuan Maninu di Larantuka
- 07 Apr 2026 07:57 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong- Tradisi prosesi laut Tuan Meninu bukan sekedar parade perahu. Ia adalah denyut nadi masyarakat Larantuka Flores Timur yang telah berjalan selama lebih dari 500 tahun
Tradisi prosesi laut Tuan Meninu merupakan bagian krusial dari perayaan. Semanasanta pekan suci yang memadukan devosi Katolik dengan sejarah panjang kerajaan lokal.
Melansir Pesona Flores, Tradisi ini bermula dari perjumpaan antara budaya masyarakat lokal dengan misionaris Portugis dan dominikan pada abad ke 16.
Larantuka dikenal sebagai kota Rinha atau kota ratu. Dimana penyerahan tongkat kerajaan kepada Bunda Maria, Tuan Ma menjadi simbol kedaulatan spiritual.
Prosesi Tuan Meninu sendiri difokuskan pada penghormatan kepada arca kanak-kanak Yesus atau dalam bahasa lokal Tuan Meninu prosesi dimulai pada siang hari di Jumat Agung.
Arca Tuan Meninu dikeluarkan dari Capela Tuan Meninu di kota Rewido.
Keunikan utama adalah moda transportasinya, Arca tidak dibawa dengan kapal modern bermesin besar melainkan menggunakan perahu dayung tradisional atau Berok.
Ditengah riuh rendah peziarah para pendayung bergerak dalam ritme yang teratur, melambangkan kesederhanaan dan kerendahan hati.
Inti dari ketegangan dan keagungan prosesi ini terletak pada pelayaran melintasi selat Gonzalo. Selat ini dikenal memiliki arus laut yang sangat kuat dan berputar pusaran air.
Bagi masyarakat lokal kelancaran melintasi arus ini bukan sekedar urusan teknis navigasi melainkan cerminan restu Ilahi.
Ratusan kapal motor dan sampan mengikuti di brlakang perahu utama yang membawa Arca. Menciptakan pemandangan kolosal di permukaan laut hiru yang kontras dengan perbukitan hijau di sekitarnya.
Satu hal yang membuat tradisi ini bertahan selama 5 abad adalah struktur sosial yang menagturnya.
Keluarga atau suku tertentu di Larantuka memiliki tugas turun-temurun, mulai dari penjaga Capela, pembawa Arca hingga pendayung utama.
Regenerasi ini dilakukan secara alami di dalam keluarga, sehingga detail ritual tidak pernah hilang.
Bagi orang Larantuka, laut bukan pemisah melainkan jalan pembersihan.
Tuan Meninu yang dibawa di atas air melambangkan Tuhan yang menyertai umatnya dalam mengarungi badai kehidupan.
Sepanjang perjalanan laut, doa-doa dalam bahasa latin dan bahasa Nage dialek lokal campuran Portugis Melayu dilantunkan tanpa henti.
Menciptakan atmosfer yang sangat meditatif meski berada di ruang terbuka. Tradisi ini bertahan karena telah menjadi identitas budaya. Bukan hanya milik Gereja tetapi milik setiap warga Larantuka tanpa memandang latar belakang sosialnya.
Komitmen untuk tidak menggunakan mesin pada perahu utama pembawa Arca adalah bukti betapa kuatnya mereka memegang teguh originalitas ritual yang diwariskan oleh nenek moyang sejak masa kolonial Portugis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....