Prosesi Pemindahan Sakramen Kudus dalam Misa Kamis Putih

  • 03 Apr 2026 08:00 WIB
  •  Sorong
Video

RRI.CO.ID, Sorong - Dalam misa Kamis Putih umat katolik, jelang jumat agung ada prosesi Pemindahan Sakramen Mahakudus (atau sering disebut Perarakan Sakramen Mahakudus).

1. Makna Prosesi

Setelah Misa Perjamuan Tuhan selesai, Gereja tidak langsung membubarkan umat dengan berkat penutup yang biasa. Sebaliknya, Pastor membawa Sibori (cawan yang berisi Hosti yang telah dikonsekrasi) dari altar menuju Altar Repositori (tempat penyimpanan sementara). Cawan tersebut biasanya ditutupi dengan selubung kain putih (velum) yang dikenakan oleh Pastor pada bahunya, menunjukkan bahwa yang dibawa adalah sesuatu yang sangat suci.

Prosesi ini melambangkan perjalanan Yesus bersama para murid-Nya menuju Taman Getsemani untuk berdoa sebelum Ia dikhianati dan ditangkap.

2. Mengapa Umat Harus Tunduk?

Dalam tradisi Katolik, Hosti tersebut dipercaya sebagai Tubuh Kristus yang nyata.

  • Sikap Hormat: Ketika Pastor lewat membawa Sakramen Mahakudus di bawah payung perarakan (umbul-umbul), umat berlutut atau membungkuk khidmat sebagai bentuk penyembahan dan penghormatan kepada kehadiran Tuhan.
  • Ketukan atau Bel: Bunyi ketukan (biasanya menggunakan matraka atau kayu, karena lonceng besi biasanya "diistirahatkan" sejak lagu Kemuliaan) berfungsi sebagai penanda agar umat memusatkan perhatian dan memberikan hormat saat Sakramen lewat di dekat mereka.

3. Apa yang Terjadi Setelahnya?

Setelah Sakramen diletakkan di Altar Repositori, biasanya akan ada:

  • Tuguran (Adorasi): Umat diajak untuk berjaga-jaga dan berdoa bersama Yesus, mengenang saat Yesus berkata, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"
  • Altar yang Kosong: Altar utama akan dikosongkan (semua kain dan hiasan diangkat). Ini melambangkan Yesus yang ditelanjangi dan ditinggalkan sendirian dalam sengsara-Nya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....