Belajar dari Tragedi Jayapura: Rumah Tak Lagi Aman Bagi Anak
- 19 Sep 2026 19:24 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Teminabuan – Dua kasus pembunuhan anak oleh ibu kandung yang terjadi beruntun di Kabupaten Jayapura pekan ini menyisakan duka mendalam sekaligus alarm keras bagi ketahanan keluarga. Rentetan peristiwa ini menjadi pelajaran penting mengenai daruratnya pengelolaan kesehatan mental dan pentingnya sistem pendukung (support system) sosial di lingkungan masyarakat.
Tragedi kemanusiaan yang melibatkan tersangka EW (43) yang menganiaya remaja hingga tewas, serta SJ (29) yang membuang bayinya sendiri, bukan sekadar kriminalitas biasa. Kapolres Jayapura bahkan menyebutnya sebagai kejadian luar biasa. Di balik jeruji besi yang kini menanti kedua pelaku, ada pesan moral kuat yang harus direnungkan oleh publik bahwa pentingnya kepekaan lingkungan sekitar terhadap tekanan psikologis yang dihadapi seorang ibu.
"Tingginya kasus pada klaster pemenuhan hak anak, khususnya pada subklaster lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, serta dominasi pelaku dari orang tua kandung menunjukkan bahwa rumah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman bagi anak," ujar Ketua KPAI, Aris Adi Leksono, dalam konferensi pers di kantor KPAI, Jakarta.
Melansir dari laman berita Validnews, Ketua KPAI Aris Adi Leksono memaparkan bahwa tingginya klaster pelanggaran hak anak yang didominasi oleh pelaku dari orang tua kandung menunjukkan bahwa rumah belum sepenuhnya menjadi tempat aman bagi anak. Kasus terbanyak umumnya bersumber dari konflik pengasuhan dan masalah keluarga.
Kemudian dari kasus pertama di Sentani Timur, publik diingatkan betapa fatalnya dampak dari ketidak mampuan mengendalikan emosi atau anger management. Tekanan beban kerja sebagai ASN yang bercampur dengan kelelahan mengurus bayi, memicu letupan emosi EW yang berujung maut pada anak pertamanya.
Hal ini membuktikan bahwa edukasi mengenai cara mengelola stres pengasuhan (parental burnout) masih sangat minim di masyarakat kita. Sementara dari kasus kedua di Sentani Kota, tindakan nekat SJ yang membuang bayinya akibat hubungan gelap memperlihatkan sisi kelam dari isolasi sosial dan rasa malu (stigma).
Ketakutan akan penghakiman sosial membuat seorang ibu kehilangan akal sehat dan nalurinya. Pelajaran berharga dari sini adalah pentingnya keterbukaan keluarga serta peran komunitas dalam merangkul, bukan justru mengucilkan individu yang sedang mengalami krisis moral atau spiritual.
Kedua kasus ini menjadi cermin retak bahwa institusi terkecil yaitu keluarga—dan sosok ibu yang seharusnya menjadi pelindung utama—bisa berubah menjadi ancaman jika dibiarkan menghadapi tekanan mental seorang diri tanpa adanya deteksi dini dari lingkungan sekitar.
Kasus hukum kedua pelaku memang sedang berjalan di Mapolres Jayapura, namun tugas masyarakat tidak berhenti di sana. Tragedi ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah, lembaga perlindungan anak, hingga kader posyandu untuk lebih gencar mengampanyekan pentingnya kesehatan mental keluarga. Memastikan setiap ibu memiliki tempat bersandar dan bercerita adalah langkah nyata agar kisah pilu serupa tidak pernah terulang lagi di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....