Penjelasan Kepala UTD RS Sele Be Solu Terkait Harga Resmi Kantong Darah

  • 10 Mei 2026 19:04 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Setiap tanggal 8 Mei diperingati sebagai hari Palang Merah Internasional. Peringatan Hari Palang Merah ini sebagai penghormatan kepada Henry Dunant, tokoh kemanusiaan di zaman perang dunia. Namun di saat ini palang merah identik terkait dengan palang Merah Indonesia (PMI) yang ada di seluruh Indonesia. Sekalipun saat ini tidak ada peperangan, namun peran PMI sangat penting bagi masyarakat awam terkait dengan donor darah.

Terjadinya kekosongan stok darah yang sangat, misalnya saat terjadi operasi, membuat kesulitan bagi masyarakat. Ditambah ada keluhan tingginya harga kantong darah. Di Kota Sorong sendiri, pihak PMI Kota Sorong selalu bekerjasama dengan pihak UTD (Unit tranfusi darah) RSUD Sele Be Solu Kota Sorong sebagai tempat penyimpanan stok darah.

Dalam dialog RRI Sorong Indonesia Sehat Jumat, 8 Mei 2026, hadir sekretaris PMI Kota Sorong Ahmad Krisnadi dan dr. Lidwina Maria.SP.PK selaku Kepala UTD RS. Sele Be Solu yang menjawab keresahan masyarakat dengan tingginya harga kantong darah.

“Rasanya harus di cross check terkait harga kantong darah. Apa lagi tadi ada pendengar yang bilang harga 1 kantong darah bisa mencapai Rp1 jutaan. Itu bayar untuk siapa dan dimana? Karena harga kami tidak bisa asal. Harga itu berdasarkan dari Permenkes tahun 2024, kalau pakai JKN itu harga ditetapkan Rp350 ribu. Kalau tidak pakai JKN atau umum harganya kisaran Rp490 ribu. Dan ada lagi perda yang di tetapkan justru Rp410 ribu rupiah,” jelas Lidwina.

Adanya pembayaran harga kantong darah dikarenakan adanya screening yang harus dilakukan sebelum di transfusikan kepada pasien. Screening berupa HIV, sifilis, dan hepatitis dengan metode standar nasional yang akurasinya 99 persen. “Peralatan dan fasilitas kami untuk screening secara teliti itulah kenapa ada biaya yang harus dibayar oleh masyarakat yang membutuhkan darah. Apa lagi belum tentu sekalipun sama jenis darahnya dengan mudahnya di terima. Makanya untuk screening saja bisa beberapa hari untuk bisa di berikan atau untuk kami simpan sebagai stok,” lanjut Lidwina.

Pihak PMI yang selalu berkoordinasi dengan pihak UTD juga sering menerima kesulitan saat menghadapi stok kosong, meskipun sering di laksanakan kegiatan donor darah. “Kami sangat senang kalau ada kegiatan donor darah seperti instansi atau organisasi ya. Cuma kita musti memberi pemahaman untuk masyarakat, sekalipun kegiatan amal donor darah bisa dapat kadang sampai 100-an kantong, tapi tidak serta merta itu bisa jadi stok di pihak UTD sebagai tempat penyimpanan. Tadi seperti kata dokter, harus di-screening ratusan kantong itu karena darah itu masuk di tubuh pasien, tidak bisa sembarang,” kata Ahmad.

Dengan seringnya terjadi kekosongan stok darah baik di pihak PMI atau UTD, sangat diharapkan sering mengadakan kegiatan amal donor darah. Sejak usia remaja alangkah baiknya rutin setiap 3 bulan untuk mandiri mendonorkan darah baik di PMI atau di UTD di rumah sakit. Selain untuk menolong sesama tapi agar tubuh lebih sehat dengan mendonorkan darah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....