Fakta Menarik Gagak Flores yang jarang diketahui

  • 05 Apr 2026 11:28 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong- Di hutan-hutan Flores yang lembap dan tenang ada satu suara yang sering membuat orang merinding sekaligus penasaran. Bukan suara angina, bukan tangisan hantu hutan tetapi serupa rintihan bayi yang datang dari kanopi hutan.

Melansir goodnews.id, sumbernya adalah gagak Flores burung endemic dengan nama ilmiah Corvus florensis salah satu spesies paling misterius di Nusa Tenggara. Burung ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Buttikofer pada 1894, dalam tradisi panjang eksplorasi zoology Hindia Belanda.

Sejak awal para peneliti sudah menyadari bahwa gagak ini berbeda dari kerabatnya diwilayah lain. Bukan hanya ukurannya yang lebih kecil tetapi juga perilaku, suara dan habitatnya yang sangat spesifik.

Gagak Flores hanya ditemukan di Pulau Flores dan sebagian kecil wilayah Rinca. Dalam konteks keanekaragaman hayati Indonesia, ia masuk kelompok spesies endemic murni, seperti kehicap Flores dan Celepuk Flores.

Panjang tubuhnya sekitar 40cm relative kecil untuk ukuran gagak. Seluruh bulunya hitam legam tanpa corak dengan iris mata gelap yang memberi kesan misterius. Kakinya kokoh, bercakar kuat cocok untuk bertengger lama di dahan hutan.

Soal makanan gagak flores termasuk omnivore. Ia memakan serangga, biji-bijian, reptile kecil dan sisa organisme. Habitat alaminya adalah hutan tropis, burung seperti ini berperan menjaga keseimbangan rantai makanan. Ia juga menjadi indicator kesehatan ekosistem.

Kemampuan terbangnya cepat dan efisien, ia tidak melayang lama tetapi berpindah cepat dari pohon ke pohon. Pola terbang ini mencerminkan adaptasi terhadap hutan rapat.

Keistimewaan paling mencolok adalah suaranya. Vokalisasinya berupa rintihan benada tinggi seperti ‘waa’ atau ‘we-we-we’ yang sering disamakan dengan tangisan bayi. Selain itu, ada suara degukan dalam seperti ‘pol-ok’ dan ‘burr-ok’. Ada juga bunyi ‘kwiyou’ dan ‘kraa’ bernada tinggi.

Variasi ini menjadikannya salah satu gagak paling vocal secara spectral. Saat berbunyi perilakunya juga unik. Ekor diturunkan tubuh ditahan horizontal dan kepala direndahkan. Gerakan ini memperkuat ekspresi visual saat berkomunikasi.

IUCN menetapkan statusnya sebagai ‘terancam’ dalam Red List. Status ini mencerminkan penurunan populasi yang konsisten. Penyebab utamanya adalah deforestasi dan fragmentasi habitat.

Gagak Flores dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi. Status ini melarang perburuan dan perdagangan.

Dalam perspektif konservasi modern, spesies gagak flores ini bukan sekedar burung. Ia adalah penanda identitas ekologi Flores. Kehilangannya berarti hilangnya bagian penting dari cerita evolusi nusantara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....