Mengapa Air Keran di Luar Negeri Bisa Langsung Diminum, Indonesia Tidak

  • 27 Mar 2026 07:48 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong,- Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, merebus air keran hingga mendidih atau membeli air kemasan galon adalah rutinitas harian yang tak terpisahkan. Kebiasaan ini muncul bukan tanpa alasan—meminum air langsung dari keran dianggap tidak aman. Namun di negara-negara seperti Singapura, Jepang, atau negara-negara Skandinavia, penduduknya dapat dengan mudah menyalakan keran dan meminum airnya tanpa rasa khawatir.

Lantas, apa yang menyebabkan perbedaan mencolok ini?

Menurut kanal YouTube "Kok Bisa" yang mengulas fenomena ini, ironisnya air yang keluar dari instalasi pengolahan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebenarnya sudah cukup bersih dan memenuhi standar kelayakan .

"Kalau kata bapak ini, sebenarnya air udah bisa langsung diminum begitu keluar dari PDAM," ungkap narator dalam video tersebut .

Masalah utamanya bukan terletak pada sumber air atau proses pengolahan di PDAM, melainkan pada jaringan pipa distribusi yang mengalirkan air ke rumah-rumah warga. Kondisi pipa air minum di banyak wilayah Indonesia sangat memprihatinkan—banyak yang sudah tua, berkarat, bocor, bahkan bercampur dengan jaringan limbah .

Akibatnya, air yang semula bersih dapat terkontaminasi oleh kotoran, bakteri, bahkan zat berbahaya selama perjalanan menuju rumah warga. Kontaminasi bakteri E.coli dan Coliform menjadi ancaman serius yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, terutama diare .

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah menetapkan standar ketat untuk air minum melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Kesehatan Lingkungan. Standar tersebut mencakup aspek fisik (jernih, tidak berbau, tidak berasa), kimia (bebas logam berat seperti merkuri dan timbal), serta bakteriologis (tidak mengandung bakteri patogen) .

Namun, tantangan infrastruktur menjadi penghalang utama. Biaya untuk memperbaiki dan membersihkan jaringan pipa yang tersebar di seluruh Indonesia sangat besar, sementara sistem yang ada saat ini masih terpusat dan belum merata .

Penelitian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang membandingkan manajemen rantai pasokan air minum di Jepang dan Indonesia menemukan setidaknya enam faktor pembeda: populasi dan pasokan air, tarif dan subsidi, pendidikan dan teknologi air, kebijakan perlindungan lingkungan, kualitas air dan kesehatan masyarakat, serta privatisasi dan desentralisasi .

Indonesia masih memiliki keterbatasan berupa sistem terpusat, kurangnya infrastruktur, dan belum optimalnya kebijakan untuk keberlanjutan.

Lantas, apa yang dilakukan negara-negara maju sehingga air kerannya aman diminum?

Singapura, misalnya, dikenal dengan inovasi teknologi NEWater—sistem pengolahan air limbah canggih yang mengubah air bekas menjadi air yang aman dikonsumsi melalui proses mikrofiltrasi, reverse osmosis, dan disinfeksi ultraviolet . Dengan keterbatasan lahan dan sumber daya alam, negara ini menjadi pelopor dalam teknologi pengolahan air dan manajemen sumber daya yang holistik.

Jepang memiliki pendekatan berbeda. Selain sistem pengolahan yang efisien dan berkelanjutan, pemerintah Jepang juga sangat responsif terhadap perkembangan riset. Ketika penelitian menunjukkan bahwa timbal dapat larut dalam air dan membahayakan kesehatan, pemerintah langsung mengganti seluruh pipa berbahan timbal di sistem distribusi mereka .

Di Eropa, Dr. Zongsu Wei, Associate Professor dari Aarhus University Denmark, menjelaskan bahwa air keran di negara-negara Uni Eropa aman untuk diminum meskipun rasanya bisa berbeda tergantung sumber airnya. Di Denmark yang menggunakan air tanah, kandungan kalsiumnya tinggi. Sementara di negara yang menggunakan air sungai, proses disinfeksi dapat meninggalkan rasa klorin—tetapi tetap aman .

Eropa saat ini bahkan sedang fokus menangani tantangan baru berupa kontaminasi PFAS (zat kimia abadi) dari berbagai produk industri, yang menunjukkan bahwa standar keamanan terus ditingkatkan seiring perkembangan ilmu pengetahuan .

Meski situasi saat ini masih jauh dari ideal, bukan berarti Indonesia tidak memiliki harapan. Dikutip Hops.ID, Beberapa daerah telah mulai menerapkan sistem perpipaan yang lebih baik. PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur, misalnya, mengoperasikan sistem penyediaan air minum (SPAM) Regional Jatiluhur I yang memasok air minum berkualitas ke DKI Jakarta, Bekasi, dan Karawang dengan kapasitas 4.750 liter per detik .

Pendidikan masyarakat tentang pentingnya air bersih dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab juga menjadi kunci. Kampanye kesadaran untuk menghemat air, mengurangi pencemaran, dan investasi dalam teknologi hijau perlu terus digalakkan .

Perbedaan kemampuan meminum air keran langsung antara luar negeri dan Indonesia bukanlah masalah kebetulan, melainkan hasil dari investasi jangka panjang dalam infrastruktur, teknologi, dan penegakan kebijakan. Air yang keluar dari PDAM sebenarnya telah diolah dengan standar yang berlaku, namun perjalanannya melalui pipa-pipa tua dan tercemarlah yang membuatnya tidak lagi aman untuk langsung dikonsumsi.

Hingga sistem distribusi air minum di Indonesia benar-benar terintegrasi dan terpelihara dengan baik, merebus air atau menggunakan air kemasan akan tetap menjadi pilihan paling bijak untuk menjaga kesehatan keluarga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....