Pakar: Panggilan 'Om' dan 'Tante' Mengalami Pergeseran Makna
- 25 Mar 2026 20:44 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID , Sorong – Fenomena penggunaan panggilan "Om" dan "Tante" yang belakangan kerap bermakna negatif di media sosial menjadi sorotan para ahli sosiologi. Istilah yang semula merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua, kini sering kali mengalami peyorasi atau penurunan makna.
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Dr. Aris Munandar, menjelaskan bahwa pergeseran ini dipicu oleh kuatnya pengaruh budaya populer dan konten digital yang mengaitkan istilah tersebut dengan perilaku menyimpang.
"Dulu, 'Om' dan 'Tante' adalah simbol kedekatan keluarga. Namun sekarang, di ruang digital, istilah ini sering kali dikonotasikan dengan sosok dewasa yang menjalin hubungan transaksional dengan anak muda, atau yang kita kenal dengan istilah sugar daddy dan sugar mommy," ujar Aris saat dihubungi RRI, Rabu 25 Maret 2026..
Dampak Media Sosial
Menurut pantauan di berbagai platform seperti TikTok dan X (Twitter), penggunaan kata "Om-om" atau "Tante-tante" sering digunakan dalam konteks sindiran terhadap gaya hidup flexing atau perilaku haus perhatian dari kalangan paruh baya.
Selain itu, istilah "Tante Girang" atau "Om Senang" yang sempat meredup, kini muncul kembali dalam bentuk meme atau candaan yang dianggap cringe oleh Generasi Z. Hal ini menyebabkan banyak orang dewasa muda merasa keberatan jika disapa dengan panggilan tersebut karena merasa dilabeli "tua" atau "tidak gaul".
Pentingnya Edukasi Bahasa
Di sisi lain, praktisi komunikasi, Indah Permata, menilai bahwa masyarakat perlu lebih bijak dalam menempatkan konteks komunikasi. Ia menyarankan agar penggunaan panggilan tetap disesuaikan dengan norma kesantunan di dunia nyata.
"Jangan sampai stigma negatif di internet merusak tatanan kesantunan kita dalam berkeluarga. Panggilan Om dan Tante tetap merupakan bentuk penghormatan yang sah dalam struktur kekeluargaan kita," kata Indah.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa bahasa bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan zaman. Meski begitu, para ahli berharap masyarakat tetap mempertahankan nilai-nilai luhur dalam berkomunikasi, baik di ruang siber maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....