Warga Sintang Mulai Kesulitan Air Bersih

  • 25 Agt 2026 09:12 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Musim kemarau mulai memberikan dampak nyata terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat, hari ini sejumlah warga yang mendapatkan sumber air bersih menggunakan air hujan maupun sumur mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih karena sumur kering.

Salah seorang warga Sintang Corona Sri Hermiyanti mengatakan dalam dua pekan ini harus berhemat menggunakan air karena untuk memenuhi kebutuhan air bersih ia harus membeli air dengan harga lima ratus ribu rupiah untuk konsumsi sekitar tiga Minggu, Kondisi tersebut menambah beban pengeluaran, terutama karena kebutuhan air terus meningkat selama musim kemarau.

Untuk mengatasi keterbatasan air, berbagai upaya penghematan dilakukan. Air bekas bilasan cucian ditampung dan digunakan kembali untuk merendam pakaian atau menyiram tanaman. Anak-anak juga diajarkan mandi menggunakan air secukupnya, misalnya dengan membatasi penggunaan air menggunakan ember. Kebiasaan mematikan keran ketika sedang menyabuni tangan maupun mencuci piring juga diterapkan agar tidak ada air yang terbuang sia-sia.

“Sumur yang selama ini menjadi sumber utama air untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan MCK mulai mengering dan debit airnya semakin kecil. Kondisi ini membuat kami terpaksa membeli air sejak tanggal 14 Agustus 2026 untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Suster Corona Sri Hermiyanti, Minggu, 23 Agustus 2026.

Sementara itu Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sintang Hanif Sulthony mengatakan kondisi cuaca selama satu bulan ke depan diperkirakan secara umum cerah hingga berawan. Namun, terdapat juga adanya potensi hujan ringan hingga sedang pada tanggal 23, 24, 25, dan 27 Agustus 2026 di sebagian kecil wilayah Kabupaten Sintang, khususnya kecamatan Ketungau Hulu, Ketungau Tengah, Kayan Hulu, Sarawai, dan Ambalau.

“Curah hujan minim, di saat seperti ini agar dapat menghemat cadangan air, dan tidak melakukan pembakaran lahan dikarenakan kondisi yang relatif kering, dan juga menjaga jarak aman di saat berkendara apabila kondisi jarak pandang rendah,” kata Hanif Sulthony.

Kondisi kekeringan tersebut diharapkan menjadi perhatian bersama, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada sumur dan air hujan sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari. Warga diimbau untuk menggunakan air secara bijaksana dan memanfaatkan kembali air yang masih layak digunakan, sembari menunggu datangnya hujan untuk mengisi kembali cadangan air yang mulai menipis. (Tin)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....