Siswa SMP Negeri 1 Sintang Ikuti Sekolah Budaya di Rumah Belajar Kain Pantang
- 14 Agt 2026 11:20 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Rumah Belajar Kain Pantang kedatangan siswa dan siswi SMP Negeri 1 Sintang yang mengikuti kegiatan Sekolah Budaya Kain Pantang, Jumat, 14 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan pertemuan ketiga dalam program Sekolah Budaya yang dilaksanakan melalui kerja sama SMP Negeri 1 Sintang dengan Rumah Belajar Kain Pantang. Para siswa mengikuti pembelajaran budaya yang mencakup praktik menenun, mengenal proses pewarnaan Kain Pantang, hingga membuat produk hilirisasi berbahan Kain Pantang.
Guru SMP Negeri 1 Sintang, Lisa Santoso, mengatakan kegiatan tersebut mendapat antusiasme yang baik dari para siswa. Menurutnya, Sekolah Budaya Kain Pantang tidak hanya memberikan pengetahuan tentang tradisi menenun, tetapi juga membuka peluang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan keterampilan.
“Kami berharap ke depan tetap bisa bersinergi. Kami juga memiliki kegiatan karya ilmiah remaja yang bisa menjadi cikal bakal kerja sama dengan Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang,” ujar Lisa.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh siswa dapat membuka wawasan mereka terhadap berbagai potensi. Tidak hanya menjadi penenun, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan sebagai konten kreator, peneliti maupun pelaku usaha dengan menciptakan produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.
Sementara itu, pemilik Rumah Belajar Kain Pantang, Hetty Kus Endang, mengaku tidak menyangka jumlah peserta justru bertambah pada pertemuan ketiga.
“Awalnya kita inisiasi hanya beberapa orang yang hadir. Ternyata di pertemuan ketiga justru bertambah banyak. Terima kasih kepada SMP Negeri 1 Sintang yang melihat ada sesuatu dari sekolah budaya ini,” kata Hetty.

Menurut Hetty, keberadaan Sekolah Budaya Kain Pantang menjadi bagian dari upaya regenerasi budaya. Pengenalan terhadap kain tradisional, kata dia, perlu dilakukan sejak usia sekolah agar generasi muda memahami proses pembuatan, pewarnaan, hingga pemanfaatan kain tersebut menjadi produk bernilai ekonomi.
“Regenerasi bukan hanya terkait belajar menenun, tetapi bagaimana anak muda mengenal budaya ini sejak dini. Bagaimana proses pembuatannya, bagaimana pewarnaannya, dan bagaimana transfer ilmu dari nenek moyang kita terus dilakukan,” jelasnya.
Selain belajar menenun dan pewarnaan alami, siswa juga diperkenalkan dengan hilirisasi produk Kain Pantang. Menurut Hetty, warisan budaya harus dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif sehingga memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi generasi muda.
Sekolah Budaya Kain Pantang juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Penggunaan pewarna alami menjadi sarana untuk mengenalkan siswa terhadap pemanfaatan sumber daya alam secara bijak, termasuk mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, serta menjaga kelestarian lingkungan.
Hetty menyebut Sekolah Budaya Kain Pantang memiliki fokus pada pemberdayaan perempuan, pengembangan forum anak, serta gagasan desa budaya inklusif yang menggabungkan pelestarian budaya, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Ia berharap Rumah Belajar Kain Pantang dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan ide dan kreativitas, termasuk dalam bidang budaya, konten kreatif, penelitian maupun kewirausahaan.
Sementara itu, Lisa berpesan agar siswa mengikuti kegiatan dengan etika dan integritas. Ia berharap pengalaman selama mengikuti Sekolah Budaya Kain Pantang dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengenali potensi diri sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal. (dby)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....