Ragam Budaya Kanayant: Makan Poe Pangumpur
- 12 Agt 2026 08:19 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID., Sintang- Tradisi Makan Poe' Pangumpur menjadi salah satu bagian penting dalam adat pertunangan masyarakat Dayak Kanayatn. Tradisi ini dibahas dalam program Ragam Budaya Kanayatn yang berlangsung di Studio Pro 1 RRI Sintang, Selasa, 11 Agustus 2026, dengan menghadirkan budayawan Dayak Kanayatn Y.F. Lilistian, Nurhayati Ester, dan Maria Sohana.
Nurhayati Ester menjelaskan, Makan Poe' Pangumpur salah satu tahapan yang paling sakral dalam adat pertunangan suku Dayak Kanayatn,secara harfiah istilah ini merujuk pada prosesi memasak dan memakan poe atau lemang/ketan yang di masak dalam bambu secara bersama-sama sebagai simbol pengikat kata. “Dalam prosesi ini, keluarga tidak hanya berkumpul untuk makan bersama, tetapi juga mengikat kata dan membicarakan rencana pernikahan secara adat,” jelasnya.
Y.F. Lilistian mengatakan, sebelum sampai pada prosesi inti, terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui, salah satunya penentuan Patone atau Picara sebagai utusan keluarga pihak laki-laki. Utusan tersebut berperan menyampaikan maksud keluarga sekaligus menjadi penghubung dalam komunikasi adat dengan keluarga calon mempelai perempuan.
Menurut Maria Sohana, tahapan berikutnya adalah Barawas atau penyampaian maksud meminang kepada keluarga perempuan. “Setelah lamaran diterima, kedua keluarga kemudian melakukan pembicaraan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan pertunangan,” ungkapnya.
Nurhayati Ester menambahkan, dalam persiapan Makan Poe' Pangumpur terdapat berbagai perlengkapan adat yang memiliki makna masing-masing. Sirih, pinang, kapur, gambir, tembakau, beras, telur, ayam, Poe' atau lemang ketan, dan Tumpi menjadi bagian dari perlengkapan yang dipersiapkan dalam prosesi tersebut.
Y.F. Lilistian menjelaskan, Poe' yang dimasak dan disantap bersama menjadi simbol kebersamaan serta berkumpulnya kedua keluarga dalam satu ikatan. Selain itu, prosesi tersebut menjadi ruang bagi keluarga dan pengurus adat untuk membicarakan hal-hal penting terkait rencana pernikahan, termasuk waktu pelaksanaan dan ketentuan adat.
Maria Sohana menuturkan, proses pengikatan kata dalam Makan Poe' Pangumpur memiliki kedudukan penting karena kesepakatan yang dibuat melibatkan keluarga besar dan tokoh adat. Ia menyebut, tradisi tersebut juga mengajarkan pentingnya musyawarah, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap keluarga dalam membangun hubungan menuju pernikahan.
Ketiga budayawan tersebut menilai Makan Poe' Pangumpur perlu terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya Dayak Kanayatn. Pelestarian tradisi tidak hanya dilakukan dengan melaksanakan prosesi adat, tetapi juga dengan memahami makna, nilai kebersamaan, dan aturan yang terkandung di dalamnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....