Dua Jenis Kebosanan Menurut Psikologi
- 28 Agt 2026 09:16 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Kebosanan adalah pengalaman yang sangat universal. Hampir semua orang pernah merasakannya, baik saat mengerjakan tugas yang monoton, duduk di rapat yang panjang, atau melakukan hal yang sama berulang kali. Namun, ilmu psikologi menunjukkan bahwa tidak semua kebosanan berasal dari akar yang sama.
Mengutip JSTOR Daily, peneliti psikologi Erin C. Westgate dari University of Virginia berargumen bahwa kebosanan bekerja seperti sinyal nyeri dalam tubuh: ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bersama rekan penelitinya, Westgate mengembangkan apa yang disebut model MAC (Meaning-and-Attentional Components), sebuah kerangka yang mengidentifikasi penyebab kebosanan dari dua dimensi yang berbeda.
Dimensi pertama adalah dimensi atensi atau perhatian. Menurut penelitian Westgate yang dipublikasikan di PubMed, kebosanan berbasis atensi terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara tuntutan kognitif sebuah aktivitas dan sumber daya mental yang dimiliki seseorang. Ini bisa terjadi dalam dua arah yang berlawanan: ketika aktivitas terlalu mudah sehingga otak tidak cukup terstimulasi, atau ketika aktivitas terlalu sulit sehingga otak sudah terlalu lelah untuk mengikutinya. Keduanya sama-sama berujung pada kebosanan, meski melalui jalur yang berbeda.
Dimensi kedua adalah dimensi makna. Kebosanan jenis ini muncul bukan karena masalah perhatian, melainkan karena aktivitas yang sedang dilakukan terasa tidak relevan dengan tujuan atau nilai-nilai yang dianggap penting oleh seseorang. Seorang karyawan yang mengisi formulir yang sama setiap hari tidak selalu bosan karena formulir itu terlalu mudah, melainkan karena ia tidak melihat hubungan antara tugas itu dan sesuatu yang bermakna baginya.
Dalam eksperimen yang dilakukan Westgate dan koleganya, ditemukan bahwa atensi dan makna bekerja sebagai prediktor kebosanan yang independen. Artinya, kekurangan salah satunya saja sudah cukup untuk memunculkan rasa bosan. Namun, keduanya juga bisa terjadi secara bersamaan dan menghasilkan apa yang disebut “kebosanan campuran” (mixed boredom) yang dirasakan lebih berat daripada keduanya secara terpisah.
Secara emosional, kedua jenis kebosanan ini meninggalkan jejak yang berbeda. Kebosanan berbasis atensi cenderung memunculkan pikiran yang melayang-layang (mind wandering) dan dalam beberapa kasus memicu rasa frustrasi atau gelisah. Sementara kebosanan berbasis makna lebih sering berujung pada kesedihan, kesepian, perasaan bahwa waktu terasa berjalan sangat lambat, dan keinginan untuk melepaskan diri dari situasi tersebut.
Memahami perbedaan ini bukan hanya tentang pengetahuan teoretis. Mengetahui jenis kebosanan yang sedang dialami dapat menjadi langkah awal untuk memilih respons yang paling tepat, sebuah topik yang menjadi landasan penting dalam penelitian Westgate selanjutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....