Asap Karhutla Bukan Sekadar Kabut, Apa yang Sebenarnya Kita Hirup?

  • 01 Sep 2026 09:02 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Ketika kabut asap mulai menutupi jarak pandang, yang pertama kali terlihat adalah udara yang berubah keruh. Bau asap pun semakin terasa, terutama ketika kita berada di luar ruangan. Namun, ada bagian dari asap karhutla yang tidak selalu bisa dilihat mata, tetapi ikut masuk bersama udara yang kita hirup.

Asap karhutla bukan hanya terdiri dari satu jenis zat. Mengutip artikel CNN Indonesia berjudul “Jenis Masker yang Bisa Menyaring Asap Karhutla”, asap kebakaran hutan dan lahan merupakan campuran gas, partikulat, dan uap yang dapat berdampak terhadap kesehatan. Paparannya dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan serta memperburuk gangguan pernapasan pada sebagian orang.

Artinya, ketika udara dipenuhi asap, persoalannya bukan sekadar rasa tidak nyaman karena bau atau pandangan yang terganggu. Ada berbagai unsur di udara yang membuat kualitasnya memburuk dan meningkatkan paparan bagi orang yang menghirupnya.

Kondisi seperti ini sering membuat kabut asap terlihat sebagai satu kesatuan. Padahal, udara yang tampak putih atau kelabu tersebut membawa campuran zat dengan karakter yang berbeda. Sebagian perlindungan pernapasan ditujukan untuk mengurangi paparan partikulat, tetapi tidak ada satu masker atau respirator yang dapat melindungi tubuh dari seluruh komponen gas dalam asap karhutla.

Karena itu, perlindungan saat kabut asap tidak cukup hanya dilihat dari apakah hidung dan mulut sudah tertutup. Jenis masker, bahan, desain, hingga cara pemakaiannya ikut menentukan seberapa baik perlindungan terhadap partikulat. Respirator seperti N95 menjadi salah satu pilihan ketika seseorang memang harus berada di luar ruangan dalam kondisi asap pekat.

Namun, memilih masker saja belum cukup. Masker yang memiliki kemampuan filtrasi tinggi tetap perlu dipasang dengan benar. Pada respirator seperti N95, bagian masker harus menempel rapat pada wajah sehingga celah di sekitar hidung dan pipi dapat diminimalkan. Jika pemasangannya tidak tepat, sebagian udara dapat masuk melalui celah tersebut dan mengurangi perlindungan.

Langkah praktisnya, sebelum keluar rumah saat kondisi asap memburuk, pastikan masker menutup hidung dan mulut serta tidak longgar di bagian wajah. Periksa juga kondisinya. Masker atau respirator yang sudah kotor, rusak, atau tidak lagi dapat terpasang dengan baik sebaiknya diganti sesuai petunjuk penggunaannya.

Jika tidak ada keperluan mendesak, pilihan yang lebih sederhana adalah mengurangi waktu berada di luar ruangan. Masker membantu mengurangi paparan partikulat ketika seseorang harus beraktivitas di luar, tetapi penggunaannya bukan berarti tubuh sepenuhnya terbebas dari paparan asap.

Pilihan masker juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi. Masker bedah masih dapat digunakan ketika tidak ada perlindungan lain yang tersedia, tetapi tingkat perlindungannya terhadap partikulat asap tidak setara dengan respirator yang terpasang dengan baik. Sementara itu, kemampuan masker kain sangat bervariasi dan dipengaruhi bahan, jumlah lapisan, desain, serta kesesuaiannya dengan wajah.

Jadi, ketika kabut asap mulai pekat, ada beberapa hal sederhana yang bisa langsung dilakukan: kurangi aktivitas di luar jika tidak mendesak, gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus keluar, pastikan masker terpasang rapat, dan jangan terus menggunakan masker yang sudah kotor atau rusak.

Kabut asap mungkin hanya terlihat seperti lapisan yang menggantung di udara. Namun, apa yang terkandung di dalamnya jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Memahami bahwa asap merupakan campuran gas, partikulat, dan uap membuat kita tidak lagi memilih perlindungan hanya berdasarkan kebiasaan, tetapi berdasarkan apa yang sedang kita hadapi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....