Cara Mengetahui Kualitas Udara yang Membahayakan Kesehatan

  • 07 Agt 2026 07:54 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Penurunan kualitas udara akibat kabut asap tidak selalu mudah dikenali. Meski langit tampak hanya sedikit berkabut, partikel pencemar di udara bisa saja sudah berada pada tingkat yang berisiko bagi kesehatan. Karena itu, mengenali tanda-tanda kualitas udara yang mulai memburuk menjadi langkah penting agar paparan asap dapat diminimalkan sejak dini.

Mengutip informasi RRI, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Tebelian Sintang, Dharmawan Wahyu Adhi, mengatakan kualitas udara di Kabupaten Sintang masuk kategori tidak sehat akibat meningkatnya konsentrasi partikel halus (PM2.5) yang dipicu asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut menjadi pengingat agar setiap orang lebih waspada saat beraktivitas di luar ruangan.

Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah jarak pandang yang mulai berkurang disertai aroma asap yang cukup menyengat. Namun, udara yang terlihat bersih belum tentu aman karena partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat secara kasatmata, tetapi tetap dapat terhirup hingga masuk ke saluran pernapasan.

Tubuh biasanya juga memberikan sinyal ketika terlalu lama terpapar udara yang tercemar. Mata terasa perih, tenggorokan kering, batuk, hidung terasa tidak nyaman, hingga napas menjadi lebih berat merupakan gejala yang patut diwaspadai. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma maupun penyakit paru termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami dampaknya.

Selain mengenali gejala, penting pula memantau informasi kualitas udara melalui BMKG atau instansi terkait. Informasi tersebut dapat menjadi acuan untuk menentukan waktu yang lebih aman beraktivitas maupun mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.

Apabila kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta menjaga sirkulasi udara di dalam rumah dapat membantu mengurangi risiko paparan asap. Menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan cairan juga menjadi langkah sederhana yang tidak kalah penting.

Selama musim kemarau, pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjadi tanggung jawab bersama. Menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan titik api yang ditemukan merupakan upaya yang dapat membantu mengurangi risiko kabut asap semakin meluas.

Semakin cepat tanda-tanda penurunan kualitas udara dikenali, semakin besar pula peluang untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan. Kewaspadaan sejak dini menjadi salah satu cara terbaik untuk tetap beraktivitas dengan aman di tengah ancaman kabut asap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....