Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Bumbu Masakan pada Suku Desa

  • 16 Mar 2026 08:26 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Masyarakat suku Dayak Desa di wilayah Kalimantan, khususnya di Kabupaten Sintang, dalam menjalani kehidupan sehari-hari masih sangat bergantung pada alam sekitar serta memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan. Salah satu bentuk hubungan tersebut adalah pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan sebagai bahan bumbu dan rempah dalam berbagai jenis masakan tradisional.

Kegiatan ini telah menjadi bagian dari budaya yang terus dipraktikkan secara turun-temurun dan berkembang menjadi kearifan lokal yang tetap terjaga hingga saat ini. Hal tersebut disampaikan oleh budayawan Dayak Desa, Hendrikus Julung, saat mengisi program Ragam Budaya Dayak Desa pada Minggu (15/3/2026) di Studio Pro 1 RRI Sintang.

Namun demikian, ia juga mengungkapkan bahwa keberadaan berbagai tumbuhan tersebut semakin berkurang dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan oleh pembukaan hutan secara berlebihan untuk kegiatan perkebunan tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Selain itu, minat masyarakat untuk mempelajari berbagai jenis tumbuhan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dan rempah juga semakin berkurang. Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya sifat konsumtif masyarakat yang cenderung memilih bumbu masakan instan karena dianggap lebih praktis.

Hendrikus Julung menjelaskan bahwa keanekaragaman tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bumbu masakan sebenarnya sangat tinggi dan memiliki prospek ekonomi yang cukup besar untuk dikembangkan. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan lokal tersebut perlu diwariskan dari generasi ke generasi agar tetap lestari. Upaya pelestarian ini dapat dilakukan melalui proses edukasi serta pengembangan potensi lokal yang berkelanjutan.

Beberapa jenis tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai bahan bumbu masakan antara lain dari kelompok rimpang seperti liak bumbu (jahe bumbu), liak padi, liak jerenang (jahe merah), cekur, dan kunyit. Selain itu, terdapat pula tumbuhan yang memberikan rasa asam seperti kecalak (kecombrang), kandis, kacam pelanuk, riang akar, riang pohon, pucuk jengger, asam empelam, tempaling atau manyam putat, belimbing tunjuk (belimbing wuluh), rampang beram atau tuak, nasi untuk pembuatan jukut, rusit, dan pekasam, terong asam, terung bulu, serta lima.

Selain bahan tersebut, masyarakat Dayak Desa juga memanfaatkan berbagai tumbuhan lainnya sebagai bumbu masakan, seperti lekau, tepus, rangki, upak pisang, daun simpur, kucai, daun ilung, sengkubak, mengkudu, sang atau sahang (lada), serta kulat putih atau jamur. Masih banyak jenis tumbuhan lain yang juga dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dan rempah dalam masakan tradisional.

Di akhir acara, Hendrikus Julung mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya keberadaan tumbuhan bagi pemenuhan kebutuhan sehari-hari, khususnya sebagai bahan bumbu dan rempah masakan. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lingkungan menjadi hal yang sangat penting agar keberadaan tumbuhan tersebut tetap terjaga.

Ia menegaskan bahwa menjaga, memelihara, dan melestarikan budaya pemanfaatan tumbuhan merupakan tanggung jawab bersama. Upaya tersebut perlu didukung melalui proses edukasi yang berkelanjutan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....