Kopi Organik Tapsel Tembus Pasar Singapura, Terapkan Prinsip Konservasi Hutan

  • 31 Agt 2026 00:50 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Tapanuli Selatan – Di tengah tren industri kopi global yang instan, petani Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan (Tapsel), memilih jalan berbasis kelestarian lingkungan. Langkah tersebut dibuktikan melalui peresmian Rumah Produksi Kopi (Dry House) sekaligus pelepasan ekspor perdana 2,5 ton kopi rakyat menuju Singapura pada Jumat 28 Agustus 2026.

Komoditas yang diekspor merupakan hasil panen kolaboratif empat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan satu Kelompok Tani Hutan (KTH) di bentang alam Batang Toru. Skema Wilayah Kelola Rakyat (WKR) dan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di kawasan ini membuktikan bahwa konservasi dan komersialisasi dapat berjalan berdampingan.

Direktur Green Justice Indonesia (GJI) Panut Hadisiswoyo menegaskan bahwa perhatian pasar internasional tidak lepas dari komitmen masyarakat dalam menjaga ekosistem hulu Batang Toru, yang juga menjadi habitat terakhir Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

"Dunia mengenal kita karena kekayaan alam yang luar biasa. Namun, kita harus membuktikan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan lingkungan," kata Panut.

Produk kopi Marancar kini memenuhi standar internasional, disajikan di maskapai penerbangan nasional, hingga dipromosikan pada forum ekonomi Eropa. Keberhasilan ini dinilai tak lepas dari penerapan kearifan lokal seperti tradisi Atabosi.

Paradigma Baru Lingkungan

Tokoh pembangunan Tapanuli Selatan, Syahrul Pasaribu, mengungkapkan bahwa penguatan ekonomi hijau di daerah tersebut dibangun atas dasar etika lingkungan yang menolak eksploitasi lahan jangka pendek.

"Dulu moto kita sering berbunyi 'Bumi dan air adalah warisan dari nenek moyang.' Tapi saya mengubah pandangan itu menjadi 'Bumi dan air ini bukan warisan nenek moyang, melainkan pinjaman dari anak cucu kita,'" ujar Syahrul.

Ia menambahkan, filosofi tersebut penting untuk mempertahankan Sertifikat Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Tapsel. Langkah ekspor ini sekaligus menjadi momentum pemulihan ekonomi daerah yang sempat merosot dari 5,2 persen menjadi 2,4 persen pada triwulan IV 2025 akibat bencana alam.

Dorong Hilirisasi Kopi

Pemerintah Kabupaten Tapsel menyambut baik kehadiran Rumah Produksi Kopi untuk menghentikan ketergantungan pada penjualan biji mentah (green bean) dan beralih ke hilirisasi bernilai tambah tinggi.

Sekretaris Daerah Tapsel Sofyan Adil menyampaikan harapan besar agar fasilitas pengolahan modern ini dapat mendongkrak daya saing UMKM lokal.

"Rumah Produksi Kopi yang kita resmikan hari ini adalah langkah nyata dari komitmen pemerintah daerah untuk menaikkan derajat dan kualitas produk kopi lokal," tutur Sofyan.

Rangkaian acara ditutup dengan penanaman bibit kopi secara simbolis, peresmian fasilitas pengeringan (dry house), serta pelepasan armada pengangkut 2,5 ton kopi Tapsel menuju Singapura.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....