Jangan Tunda Taubat karena Merasa Punya Banyak Waktu
- 10 Mar 2026 23:23 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga – Setiap manusia tidak luput dari kesalahan, namun pintu ampunan Allah SWT selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Menunda permohonan ampun kepada Sang Pencipta karena merasa usia masih muda atau memiliki umur panjang merupakan salah satu kekeliruan besar yang sering dilakukan manusia.
Ustazah Luthfi Farikuniyah menegaskan bahwa "kesempatan terakhir" untuk menghapus dosa bukanlah saat memasuki masa tua, melainkan saat ini juga. Menurutnya, tidak ada satu pun manusia yang memiliki jaminan akan hari esok, sehingga menunda taubat adalah tindakan berisiko bagi keselamatan spiritual seseorang.
| Baca juga: Ramadan Jadi Momen Anak Muda Belajar Syukur |
"Banyak dari kita yang terjebak dalam rasa aman yang semu, merasa masih punya banyak waktu untuk memperbaiki diri nanti. Padahal, pintu taubat adalah kesempatan emas yang harus diambil segera sebelum ajal menjemput," ujar Ustazah Luthfi dalam program religi "Tauladan" yang disiarkan langsung oleh Pro 2 RRI Sibolga pada Rabu, 4 Maret 2026.
Ustazah Luthfi menjelaskan bahwa kesungguhan atau taubat nasuha tidak hanya sekadar ucapan di bibir. Diperlukan penyesalan yang mendalam, komitmen untuk meninggalkan kemaksiatan, serta tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
Ia juga menyoroti hambatan psikologis seperti rasa malu atau perasaan bahwa dosa sudah terlalu besar untuk diampuni. Menurutnya, pemikiran tersebut justru merupakan bisikan yang menghalangi seseorang untuk kembali ke jalan yang benar, karena rahmat Allah SWT jauh melampaui segala kesalahan hamba-Nya.
"Jangan pernah merasa dosa kita lebih besar dari ampunan Allah. Sebesar apa pun kesalahan masa lalu, jika kita datang dengan kerendahan hati dan air mata penyesalan, Allah pasti membukakan jalan bagi kita untuk menjadi pribadi yang baru," tambahnya.
Selain hubungan vertikal dengan Tuhan, Ustazah Luthfi mengingatkan pentingnya membersihkan diri dari dosa terhadap sesama manusia. Hal ini mencakup keberanian meminta maaf secara langsung dan mengembalikan hak-hak orang lain yang mungkin pernah terabaikan sebagai syarat sempurnanya sebuah pertobatan.
Bagi generasi muda, ia berpesan agar energi yang dimiliki saat ini digunakan untuk memperbanyak amalan penghapus dosa, seperti zikir harian dan sedekah. Ia menekankan bahwa tetap istiqamah dalam kebaikan setelah bertaubat adalah bukti nyata dari kesungguhan hati seseorang dalam menghargai waktu yang tersisa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....