Menanamkan Kepekaan Sosial bagi Masyarakat Terdampak Bencana
- 25 Feb 2026 08:19 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga – Ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah dinilai harus menjadi momentum krusial untuk memperkuat solidaritas batin dan kepekaan sosial bagi warga terdampak bencana. Hal ini dinilai sangat penting bagi masyarakat Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah yang saat ini masih berjuang pulih dari dampak banjir bandang akhir tahun lalu.
Ustazah Nurul Raihan menekankan bahwa ibadah puasa tahun ini memiliki urgensi khusus bagi masyarakat Sibolga dan Tapanuli Tengah. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut sempat dilanda banjir bandang hebat pada 25 November 2025 lalu yang merusak rumah dan masa depan banyak warga.
Menurutnya, puasa bukan sekadar menjalankan kewajiban agama untuk menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga magrib. Lebih dari itu, puasa adalah proses latihan bagi umat Islam untuk merasakan langsung penderitaan saudara sesama yang sedang mengalami kesulitan ekonomi pascabencana.
"Kita menahan lapar kurang lebih 15 jam agar kita bisa merasakan bagaimana laparnya saudara kita yang ekonominya tidak mencukupi untuk makan sehari-hari," ujarnya dalam program TAULADAN di Pro 2 RRI Sibolga, Jumat, 20 Februari 2026.
Nurul juga menyoroti fenomena bantuan sosial yang biasanya melimpah di awal bencana, namun perlahan menyusut seiring berjalannya waktu. Baginya, Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali semangat tolong-menolong kepada korban bencana yang mulai terlupakan oleh publik.
Dalam penjelasannya, ia menyarankan agar penyaluran takjil atau sedekah makanan di masjid-masjid diprioritaskan bagi kaum duafa dan kelompok lansia yang terdampak musibah. Langkah sederhana ini dinilai efektif untuk meringankan beban ekonomi warga terdampak secara bertahap namun pasti.
| Baca juga: Mengenal Istilah "Mokel" di Bulan Ramadan |
Selain bantuan materi, Nurul memandang Ramadan sebagai fase "penyembuhan" kolektif bagi mentalitas warga yang trauma. Dukungan moral antarwarga menjadi kunci agar masyarakat tidak merasa berjuang sendirian dalam menghadapi sisa-sisa kehancuran bencana.
"Puasa kali ini adalah momen penyembuhan bersama. Kita diajak untuk lebih sabar menghadapi ujian dan meyakini bahwa di balik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan yang sedang dipersiapkan oleh Allah SWT," tambahnya.
Menutup tausiahnya, ia berharap kepekaan sosial yang terbangun selama bulan suci tidak berakhir saat Idulfitri tiba. Ia mendorong agar semangat membantu korban bencana menjadi fondasi iman yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah Tapanuli Tengah dan sekitarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....