Mengenal Istilah "Mokel" di Bulan Ramadan

  • 05 Mar 2026 23:52 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga – Fenomena membatalkan puasa secara diam-diam yang kini populer dengan sebutan "mokel" semakin marak diperbincangkan di ruang digital setiap memasuki bulan ramadan. Istilah yang awalnya bersifat kedaerahan ini kini bertransformasi menjadi bahasa slang nasional yang kerap digunakan oleh generasi muda dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial.

Berdasarkan tinjauan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mokel didefinisikan secara spesifik sebagai tindakan makan atau minum sebelum waktu berbuka puasa yang dilakukan secara diam-diam. Secara etimologi, istilah ini berakar dari bahasa Jawa yang merujuk pada tindakan menghentikan sesuatu sebelum waktunya, yang kemudian mengalami penyempitan makna khusus dalam konteks puasa.

Irfan, menjelaskan bahwa istilah ini telah menjadi bagian dari identitas bahasa pergaulan digital. Menurutnya, mokel bukan sekadar kata, melainkan representasi dari perilaku sembunyi-sembunyi yang kini justru sering dijadikan konten atau bahan candaan di media sosial.

"Dulu mungkin orang malu kalau ketahuan batal puasa, tapi sekarang istilah mokel dipakai sebagai bahasa slang yang membuat tindakan tersebut terkesan lebih ringan atau santai di tongkrongan," ujar Irfan dalam program Coleteh Ramadan di Pro 2 RRI Sibolga pada Selasa, 3 Maret 2026.

Selain istilah mokel, masyarakat mengenal istilah "godin" di Jawa Barat atau "budim" yang merupakan akronim dari 'buka diam-diam'. Kehadiran istilah-istilah ini menunjukkan betapa kayanya serapan bahasa daerah ke dalam komunikasi non-formal nasional.

Secara sosiolinguistik, penggunaan bahasa tidak baku ini berfungsi sebagai "kode" antar kelompok agar komunikasi terasa lebih akrab dan tidak menghakimi secara langsung.

"Kita harus paham bahwa meskipun istilah ini terdengar jenaka, secara esensi mokel tetaplah bentuk ketidakjujuran terhadap diri sendiri dan Tuhan. Penting bagi anak muda untuk tidak sekadar ikut tren bahasa tanpa memahami makna integritas di baliknya," tambah Irfan saat sesi tanya jawab.

Sebagai penutup diskusi,Irfan menekankan bahwa popularitas istilah slang tidak seharusnya menormalisasi tindakan yang mencederai komitmen ibadah. "Kita harus menyadari bahwa tren bahasa seperti ini tidak boleh sampai menormalisasi tindakan yang melanggar komitmen ibadah. Meskipun terdengar jenaka, kejujuran terhadap diri sendiri dan Tuhan tetaplah menjadi fondasi yang paling utama. Saya berharap generasi muda bisa lebih bijak dan tetap menjaga integritas karakter di tengah riuhnya percakapan media sosial selama bulan suci ini," tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....