Karhutla juga Menjadi Persoalan Kesehatan
- 27 Agt 2026 18:35 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bukan hanya menjadi persoalan lingkungan karena dapat menyebabkan kerusakan kawasan hutan dan lahan, tetapi juga menjadi ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika kabut asap terjadi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dampak asap tidak selalu hanya dirasakan oleh masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran, tetapi dapat menyebar ke wilayah lain mengikuti arah angin.
Sri Wahyuni, Kepala Dinas Kesehatan Kota Sibolga, saat Sibolga Menyapa Pro 1, Kamis, 27 Agustus 2026 mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan. Menurutnya, penurunan kualitas udara akibat asap karhutla dapat memengaruhi kondisi saluran pernapasan masyarakat. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang sebelumnya memiliki gangguan pernapasan perlu mendapatkan perhatian lebih karena paparan udara yang tercemar dapat meningkatkan risiko munculnya keluhan kesehatan maupun memperburuk kondisi yang sudah ada.
“Paparan asap kebakaran dalam jangka pendek dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari iritasi pada mata, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga sesak dan gangguan pada saluran pernapasan. Partikel yang terdapat dalam asap juga dapat masuk ke dalam sistem pernapasan sehingga masyarakat perlu menghindari paparan secara berlebihan. Apabila kabut asap semakin pekat dan kualitas udara menurun, masyarakat sebaiknya membatasi kegiatan diluar rumah, khususnya bagi kelompok yang lebih rentan terhadap pencemaran udara,” kata Sri Wahyuni.
Sri Wahyuni mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah perlindungan diri ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap. Salah satunya dengan mengurangi aktivitas diluar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas diluar rumah. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan anggota keluarga, terutama anak-anak dan lansia. Apabila muncul keluhan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau gangguan kesehatan lainnya yang semakin berat, masyarakat diharapkan segera mencari pertolongan pada fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, dampak kesehatan akibat karhutla tidak hanya berkaitan dengan kondisi ketika kabut asap telah menyelimuti permukiman. Persoalan tersebut harus dilihat dari upaya pencegahan sejak awal agar kebakaran tidak terjadi dan pencemaran udara dapat dihindari. Masyarakat memiliki peran penting dengan tidak melakukan pembakaran hutan, lahan maupun sampah secara sembarangan, karena api yang tidak terkendali dapat dengan cepat meluas ketika kondisi lingkungan kering dan curah hujan rendah.
“Dinas Kesehatan juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap kondisi lingkungan selama periode yang berpotensi terjadi kebakaran. Selain menjaga kesehatan diri, masyarakat dapat membantu upaya pencegahan dengan segera melaporkan apabila menemukan adanya titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Dengan adanya tindakan cepat dari masyarakat dan pemerintah, risiko meluasnya kebakaran serta dampak kabut asap terhadap kesehatan dapat ditekan,” ujar Sri Wahyuni.
Sri Wahyuni menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak karena dampaknya dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pencegahan kebakaran bukan hanya bertujuan menjaga kelestarian hutan dan lahan, tetapi juga menjaga kualitas udara dan melindungi masyarakat dari gangguan kesehatan akibat paparan asap. Karena itu, kesadaran untuk mencegah karhutla sejak dini harus terus dibangun agar masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang bersih, sehat, dan aman dari ancaman kabut asap.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....