Masyarakat Faktor Penentu Pengurangan Risiko Bencana

  • 29 Apr 2026 15:20 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Peran masyarakat dinilai menjadi faktor penentu dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui langkah preventif, kesiapsiagaan, serta mitigasi berbasis lokal. Rio Silitonga, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sibolga, saat dialog Kentongan Pro 1, Selasa, 28 April 2026 menegaskan keterlibatan aktif warga sangat dibutuhkan untuk meminimalkan dampak bencana yang terjadi dan yang akan terjadi di wilayah kota Sibolga.

“Pengurangan risiko bencana tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah semata, melainkan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat secara aktif dan berkelanjutan. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam membangun lingkungan yang tangguh terhadap berbagai potensi bencana,” kata Rio.

Menurut Rio, tindakan preventif yang dapat dilakukan masyarakat dimulai dari hal sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Kebiasaan ini dinilai mampu mencegah terjadinya banjir dan kerusakan lingkungan yang dapat memicu bencana.

“Selain itu, upaya penghijauan dengan menanam pohon di daerah rawan longsor juga menjadi langkah penting dalam mitigasi berbasis lingkungan. Pohon berfungsi menahan struktur tanah sehingga dapat mengurangi risiko longsor, khususnya di wilayah dengan kontur tanah yang labil,” ujar Rio.

Disamping itu Simson Tamba, selaku Pranata Pencarian dan Pertolongan BPBD Sibolga, juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap peta risiko bencana di wilayah masing-masing, khususnya di wilayah kota Sibolga yang diapit pegunungan dan lautan. Dengan mengetahui potensi ancaman yang ada, masyarakat dapat lebih waspada dan mampu mengambil langkah antisipasi secara tepat.

“Kesiapsiagaan masyarakat, dapat ditingkatkan melalui keikutsertaan dalam kegiatan simulasi kebencanaan yang rutin dilakukan. Melalui simulasi tersebut, warga dapat memahami prosedur evakuasi, jalur penyelamatan, serta pola koordinasi saat kondisi darurat terjadi,” kata Simon.

Ia juga mengatakan bahwa pembentukan kelompok siaga bencana mandiri ditingkat lingkungan sangat diperlukan sebagai garda terdepan dalam penanganan awal. Kelompok ini berperan penting dalam memberikan informasi cepat, membantu evakuasi, dan mendukung proses tanggap darurat.

Dengan keterlibatan masyarakat yang terorganisir dan berkelanjutan, Rio dan Simon menilai dampak kerugian akibat bencana dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, proses pemulihan pascabencana juga dapat berlangsung lebih cepat, sehingga ketahanan masyarakat terhadap bencana semakin kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....