Pengurangan Sampah Plastik Dimulai dari Kebiasaan
- 30 Mar 2026 15:09 WIB
- Sibolga
RRI.CO.ID, Sibolga - Upaya mengurangi sampah plastik dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian lingkungan, mengingat plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami. Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik berpotensi mencemari tanah, sungai, hingga laut, serta mengancam keberlangsungan ekosistem dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai terus didorong melalui berbagai kampanye lingkungan.
Dian Iradhani, Sekretaris Yayasan Menjaga Pantai Barat Tapanuli Tengah-Sibolga (Yamantab) pada Beranda Asta Cita Pro 1, Minggu, 29 Maret 2026 mengatakan perubahan besar dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana ditingkat individu. Ia menekankan pentingnya menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) sebagai dasar dalam mengurangi produksi limbah plastik sejak dari sumbernya. Menurutnya, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan.
| Baca juga: Gerakan Kurangi Plastik dan Mikroplastik |
“Reduce atau mengurangi penggunaan plastik dapat dilakukan dengan cara membawa tas belanja kain saat berbelanja, menggunakan tumbler atau botol minum pribadi, serta menghindari penggunaan kantong plastik sekali pakai. Sementara itu, reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih layak pakai agar tidak langsung menjadi sampah. Adapun recycle dilakukan dengan memilah sampah dan memanfaatkan kembali plastik melalui proses daur ulang,” kata Dian.
Ia menambahkan langkah sederhana seperti membawa botol minum sendiri saat bepergian dapat secara signifikan mengurangi jumlah sampah plastik, terutama botol sekali pakai yang banyak ditemukan ditempat pembuangan akhir maupun di perairan. Jika kebiasaan ini dilakukan oleh banyak orang, maka volume sampah plastik yang dihasilkan setiap hari dapat berkurang secara drastis.
Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik sering kali berakhir di sungai dan laut, sehingga mencemari habitat berbagai biota laut. Hewan laut seperti ikan, penyu, dan burung laut kerap mengira plastik sebagai makanan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian. Kondisi ini tidak hanya merugikan ekosistem, tetapi juga berdampak pada manusia yang mengonsumsi hasil laut yang telah terkontaminasi mikroplastik.
Dian menilai bahwa pengurangan sampah plastik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Edukasi mengenai bahaya plastik sekali pakai dan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah perlu terus ditingkatkan agar masyarakat lebih sadar dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, ia juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas, dan lembaga pendidikan untuk memperluas kampanye pengurangan plastik melalui kegiatan sosialisasi, aksi bersih lingkungan, dan penyediaan fasilitas daur ulang. Menurutnya, pendekatan yang melibatkan banyak pihak akan lebih efektif dalam membentuk kebiasaan baru yang ramah lingkungan di tengah masyarakat.
“Melalui penerapan prinsip 3R dan perubahan kebiasaan sehari-hari, diharapkan volume sampah plastik yang berakhir ditempat pembuangan akhir maupun di laut dapat terus ditekan.” Dian Iradhani berharap masyarakat dapat mulai dari langkah kecil dilingkungan masing-masing, karena akumulasi tindakan sederhana yang dilakukan bersama-sama akan memberikan dampak besar bagi kelestarian bumi dan kualitas lingkungan hidup di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....