Jangan Wariskan Plastik bagi Generasi Mendatang

  • 17 Jun 2026 20:33 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga- Persoalan sampah plastik di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Sampah plastik bukan lagi sekadar merusak pemandangan atau menyumbat saluran air, tetapi telah bertransformasi menjadi ancaman yang tak kasat mata, mikroplastik.

Partikel buatan manusia berukuran kurang dari 5 milimeter ini dilaporkan telah menyusup ke dalam sistem keran air, garam konsumsi, seafood, bahkan ditemukan di dalam darah dan plasenta manusia.

Kampanye "Jangan Wariskan Plastik" kini mulai digaungkan oleh berbagai elemen masyarakat sebagai alarm keras. Tujuannya satu, menghentikan kebiasaan membuang sampah plastik sekali pakai demi menyelamatkan generasi masa depan dari bahaya laten mikroplastik.

Plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Namun, proses "terurai" ini bukan berarti plastik tersebut hilang, melainkan hancur menjadi partikel-partikel kecil akibat paparan sinar matahari dan gelombang laut.

Pegiat lingkungan Sibolga - Tapanuli Tengah Damai Mendrofa, menegaskan ketidaktahuan masyarakat mengenai proses perubahan plastik menjadi mikroplastik ini adalah bom waktu.

"Plastik yang kita buang hari ini tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya mengecil, berubah menjadi mikroplastik, lalu masuk ke dalam tanah, diserap air, dan dimakan oleh ikan. Secara tidak sadar, kita sedang memakan kembali sampah yang kita buang beberapa tahun lalu," ujar Damai Mendrofa saat program Sore Bercerita Pro2 berjaringan korwil 16, RRI Medan, RRI Sibolga dan RRI Gunung Sitoli. Rabu, 17 Juni 2026.

Menurut Damai, frasa “Jangan Wariskan Plastik” harus dimaknai secara harfiah. Jika generasi saat ini tidak mengubah gaya hidup secara radikal, anak-cucu di masa depan akan mewarisi ekosistem yang sepenuhnya telah terkontaminasi racun plastik.

Penelitian global menunjukkan mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia membawa zat kimia berbahaya seperti phthalates dan bisphenol A (BPA) yang bersifat karsinogenik.

Damai Mendrofa juga menekankan penanganan mikroplastik tidak bisa hanya mengandalkan aksi pembersihan di hilir (seperti membersihkan pantai atau sungai), melainkan harus dipotong langsung dari hulunya, yaitu dengan mengurangi produksi dan konsumsi plastik sekali pakai.

"Kita tidak bisa hanya sibuk memungut sampah di laut sementara keran produksinya di darat terus dibuka lebar. Kebijakan pelarangan plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan dan pasar tradisional harus ditegakkan tanpa kompromi," tambah Damai.

Ia mengajak masyarakat untuk memulai langkah kecil dari rumah masing-masing, selalu membawa kantong belanja kain dan botol minum (tumbler) sendiri serta menolak penggunaan sedotan dan alat makan plastik.

Memilah sampah organik dan anorganik agar plastik dapat didaur ulang dengan benar dan tidak berakhir di TPA atau lingkungan terbuka.

Langkah mitigasi ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban bersama. Mengurangi konsumsi plastik hari ini adalah investasi paling berharga bagi generasi penerus agar dapat tumbuh di lingkungan yang bersih dan sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....