Infantino Diserang Kritik, Begini Strategi Presiden FIFA Pertahankan Jabatan
- 06 Agt 2026 10:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden FIFA, Gianni Infantino diperkirakan, tetap 'ngotot- mempertahankan jabatannya di tengah gelombang kritik dari sejumlah tokoh sepak bola dunia.
- Keyakinan tersebut muncul, setelah Infantino menggelar pertemuan tertutup bersama jajaran petinggi FIFA di Maroko.
- Saya bertanggung jawab kepada 211 asosiasi anggota FIFA
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino diperkirakan, tetap 'mempertahankan jabatannya di tengah gelombang kritik dari sejumlah tokoh sepak bola dunia. Meski menghadapi tekanan politik terbesar selama masa kepemimpinannya, Infantino diyakini masih memiliki dukungan mayoritas dari asosiasi anggota FIFA.
Keyakinan tersebut muncul, setelah Infantino menggelar pertemuan tertutup bersama jajaran petinggi FIFA di Maroko. Rapat yang berlangsung selama berjam-jam itu, digelar di tengah meningkatnya desakan agar dirinya segera mengundurkan diri dari kursi Presiden FIFA.
Melansir laporan Sky Sports, Infantino dinilai tetap percaya diri, karena memperoleh dukungan kuat dari negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Dukungan itu, dinilai cukup untuk meredam tekanan dari kelompok yang menginginkan pergantian kepemimpinan FIFA.
Pemberitaan Sky Sports menuliskan, mandat Presiden FIFA berasal dari 211 asosiasi anggota yang memiliki hak suara. Karena itu, ia menegaskan tetap bertanggung jawab kepada seluruh anggota, bukan kepada kelompok pengkritik yang vokal di ruang publik.
"Saya bertanggung jawab kepada 211 asosiasi anggota FIFA," kata Infantino dalam keterangannya seperti dilansir laman Sky Sports, Kamis, 6 Agustus 2026. Infantino diketahui, memimpin rapat selama sekitar tujuh jam bersama para pejabat senior FIFA di Maroko.
Setelah pertemuan berakhir, ia terlihat menghadiri pertandingan Piala Afrika Wanita bersama Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom. Pertemuan tersebut berlangsung setelah muncul polemik terkait rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Luis Figo Desak Infantino Mundur
Mantan bintang Portugal, Luis Figo, menjadi salah satu tokoh yang paling keras mengkritik kepemimpinan Infantino. Ia menilai Presiden FIFA telah mencederai integritas jabatan dan meminta agar segera mengundurkan diri.
"Perilaku paling rendah, paling penuh tipu daya, dan paling pengecut yang didorong kepentingan pribadi. Dia harus pergi sekarang," kata Figo.
Pernyataan tersebut memperlihatkan semakin besarnya tekanan terhadap kepemimpinan FIFA. Sejumlah mantan pemain dan pengamat sepak bola juga mulai mempertanyakan arah tata kelola organisasi tersebut.
Arsene Wenger Ambil Jarak dari Polemik
Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger, turut memberikan tanggapan terkait polemik tersebut. Wenger menegaskan, dirinya tidak terlibat dalam rencana komersial yang akhirnya dibatalkan.
Ia juga menekankan pentingnya independensi FIFA dalam menjalankan tugasnya. Menurut Wenger, setiap kebijakan harus mengedepankan transparansi, integritas, dan kepentingan sepak bola.
"Saya sangat meyakini FIFA yang independen. Melayani permainan dengan komitmen, transparansi, dan integritas," ujar Wenger.
FIFA Bantah Isu Janji Final Piala Dunia 2030 untuk Maroko
Di tengah krisis tersebut, muncul laporan yang menyebut Infantino menjanjikan laga final Piala Dunia 2030 kepada Maroko sebagai bentuk imbalan atas dukungan politik. Isu itu langsung dibantah oleh FIFA melalui pernyataan resminya.
Juru bicara FIFA menegaskan, tidak pernah ada keputusan maupun janji mengenai lokasi pertandingan final. Penentuan stadion penyelenggara partai puncak akan diputuskan sesuai mekanisme organisasi pada waktu yang telah ditentukan.
"Tidak benar dan menyesatkan. Jika diklaim Presiden FIFA membuat janji terkait final Piala Dunia 2030," kata juru bicara FIFA.
Kelompok yang menentang kepemimpinan Infantino masih memiliki sejumlah jalur untuk mengajukan mosi tidak percaya. Mereka dapat meminta rapat darurat Dewan FIFA maupun mengusulkan Kongres Luar Biasa apabila memperoleh dukungan yang cukup.
Selain itu, proses pencalonan Presiden FIFA berikutnya masih terbuka hingga 18 November 2026. Pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pada Maret mendatang diperkirakan menjadi momentum penting yang akan menentukan arah kepemimpinan sepak bola dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....