Liga Inggris Hadapi Krisis Finansial, Studi Sebut 90 Persen Klub Merugi
- 02 Agt 2026 11:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Liga Primer Inggris masih menjadi kompetisi sepak bola dengan nilai ekonomi terbesar di dunia. Namun, di balik besarnya pendapatan dari hak siar, sponsor, dan investasi, mayoritas klub justru diperkirakan mengalami kerugian finansial.
- Melansir laporan harian Spanyol, AS, perusahaan konsultan BDO memproyeksikan, sekitar 90 persen klub di empat kasta teratas sepak bola Inggris merugi.
- Liga Primer Inggris sedang berada dalam fase yang rumit. Meski pendapatan dari sponsor dan hak siar meningkat, klub-klub di liga terkaya di dunia menemui kesulitan untuk meraih keuntungan
RRI.CO.ID, Jakarta - Liga Primer Inggris masih menjadi kompetisi sepak bola dengan nilai ekonomi terbesar di dunia. Namun, di balik besarnya pendapatan dari hak siar, sponsor, dan investasi, mayoritas klub justru diperkirakan mengalami kerugian finansial.
Melansir laporan harian Spanyol, AS, perusahaan konsultan BDO memproyeksikan, sekitar 90 persen klub di empat kasta teratas sepak bola Inggris merugi. Prediksi tersebut, muncul meski pendapatan komersial dan nilai kontrak siaran televisi terus meningkat setiap tahun.
Fenomena ini, menunjukkan besarnya tekanan biaya yang harus ditanggung klub-klub Inggris. Pengeluaran untuk gaji pemain, biaya operasional, hingga tingginya nilai transfer disebut menjadi penyebab utama memburuknya kondisi keuangan.
Salah satu contoh, datang dari Liverpool yang tengah menjajaki penjualan hingga 49 persen saham minoritas klub. Kesepakatan dengan konsorsium yang dipimpin Amit Bhatia bersama keluarga Mittal disebut berpotensi memiliki nilai hingga 6 miliar dolar AS.
Berbeda dengan Liverpool, Leicester City justru berada dalam situasi yang jauh lebih sulit. Grup King Power bahkan resmi menawarkan klub tersebut kepada investor baru.
Tepatnya, setelah Leicester City mengalami tekanan finansial dan degradasi dari Liga Primer Inggris. Klub yang pernah menciptakan sejarah dengan menjuarai Liga Inggris pada 2016 itu dilaporkan membukukan kerugian sebesar 71,1 juta pound sterling.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kesuksesan di lapangan tidak selalu menjamin kesehatan keuangan klub. Menghadapi situasi tersebut, Liga Primer Inggris mulai menerapkan aturan finansial baru pada musim 2026-2027.
Regulasi itu, membatasi total pengeluaran pemain maksimal 85 persen dari pendapatan klub sebagai upaya menjaga keberlanjutan finansial. Mitra pengelola Channel Associados, Moises Assayag, menilai Liga Inggris sedang menghadapi tantangan besar meski tetap menjadi kompetisi paling bernilai di dunia.
"Liga Primer Inggris sedang berada dalam fase yang rumit. Meski pendapatan dari sponsor dan hak siar meningkat, klub-klub di liga terkaya di dunia menemui kesulitan untuk meraih keuntungan," ujar Moises Assayag dalam keterangannya seperti dilansir AS, dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.
Meski banyak klub menghadapi tekanan keuangan, aktivitas belanja pemain tetap menjadi yang tertinggi di Eropa. Berdasarkan data Transfermarkt, klub-klub Liga Inggris telah menghabiskan sekitar 1,39 miliar euro pada bursa transfer musim panas 2026.
Angka tersebut jauh melampaui kompetisi besar lainnya. Serie A Italia berada di posisi kedua, dengan pengeluaran sekitar 585,5 juta euro.
Kemudian, disusul Bundesliga Jerman sebesar 434,2 juta euro, LaLiga Spanyol 307 juta euro. Selanjutnya, Ligue 1 Prancis 245 juta euro.
Empat dari lima transfer termahal musim panas ini juga melibatkan klub Liga Primer Inggris. Fakta tersebut semakin menegaskan besarnya daya beli klub-klub Inggris meski kondisi finansial mereka tengah mendapat sorotan.
Direktur Eksekutif Foot Pro, Verediano Pinheiro, menilai sepak bola kini telah berkembang menjadi industri hiburan global. Menurutnya, investor tidak lagi hanya mengejar prestasi olahraga, tetapi juga nilai merek dan potensi bisnis klub.
Sementara itu, CEO P&P Sport Management, Claudio Fioretto, mengatakan investasi kini mulai bergeser dari pembelian pemain menuju pembelian saham klub. Ia menilai institusi sepak bola telah berubah menjadi aset bernilai miliaran dolar yang menarik minat investor dari seluruh dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....