Pelatih Spanyol Beberkan Kunci Sukses La Roja Juarai Pildun 2026, Ini Bocorannya

  • 26 Jul 2026 14:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente menegaskan, pintu kembali ke La Roja masih terbuka bagi para pemain senior. Para pemain senior Spanyol yang dimaksudnya itu, seperti Álvaro Morata dan Dani Carvajal.
  • De la Fuente membeberkan, kunci sukses Spanyol bisa menumbangkan Argentina 1-0 dan menjuarai Pildun 2026. Ia mengatakan, semua bukan hasil kerja individu, melainkan buah dari kekompakan seluruh tim.
  • Kami jelas lebih unggul di final, dan mereka tidak melepaskan satu pun tembakan ke arah gawang kami. Meski kami merasakan sedikit ketenangan, sepak bola selalu menyimpan kejutan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente menegaskan, pintu kembali ke La Roja masih terbuka bagi para pemain senior. Para pemain senior Spanyol yang dimaksudnya itu, seperti Álvaro Morata dan Dani Carvajal.

De la Fuente membeberkan, kunci sukses Spanyol bisa menumbangkan Argentina 1-0 dan menjuarai Pildun 2026. Ia mengatakan, semua bukan hasil kerja individu, melainkan buah dari kekompakan seluruh tim.

"Piala Dunia milik Luis de la Fuente? Hal itu membuat saya merasa malu. Tetapi saya ingin mengingatkan semua orang bahwa ini adalah Piala Dunia sebuah timnas yang hebat," kata De la Fuente dalam keterangannya, seperti dilansir Media Spanyol, AS, Minggu, 26 Juli 2026.

Pelatih berusia 65 tahun itu menilai, Spanyol tampil dominan pada partai final melawan Argentina. Menurutnya, La Roja mampu mengendalikan pertandingan hingga lawan tidak mampu mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.

"Kami jelas lebih unggul di final, dan mereka tidak melepaskan satu pun tembakan ke arah gawang kami. Meski kami merasakan sedikit ketenangan, sepak bola selalu menyimpan kejutan," ucap De la Fuente.

Meski begitu, De la Fuente mengakui, timnya sempat berada dalam situasi berbahaya pada babak tambahan waktu. Ia menilai, satu kesalahan kecil bisa saja mengubah hasil pertandingan.

"Seandainya sapuan Cubarsi memantul dari Unai Simón dan masuk ke gawang, mereka bisa saja menang. Tanpa satu pun tembakan ke arah gawang, untungnya, momen itu ditangani dengan baik," ucap De la Fuente.

Keberhasilan Spanyol, menurutnya, juga ditopang lini pertahanan yang tampil luar biasa sepanjang turnamen. De la Fuente mengungkapkan, timnya hanya menghadapi 10 tembakan selama Piala Dunia dan hanya kebobolan satu gol.

"Kami hanya menerima sepuluh tembakan sepanjang turnamen. Itu terjadi karena tim ini bertahan secara kolektif dengan sangat baik," ujar De la Fuente.

Selain kokoh di belakang, Spanyol juga tampil tajam di lini depan. De la Fuente menyebutkan, timnya telah mencetak lebih dari 100 gol dalam 50 pertandingan dengan jumlah kebobolan yang sangat minim.

"Kami adalah tim yang mencetak banyak gol dan sangat sedikit kebobolan. Ini adalah tim yang kooperatif, murah hati, dan memiliki organisasi pertahanan yang dirancang dengan cermat," kata De la Fuente.

Mengenai perjalanan selama turnamen, De la Fuente menuturkan, tidak pernah meragukan kemampuan para pemainnya. Ia memilih mengabaikan kritik dari luar dan fokus membangun suasana positif di dalam skuad.

"Setelah pertandingan pertama, kami tahu bahwa inilah jalur yang benar. Selama 52 hari, tidak ada satu pun masalah yang terjadi di dalam tim," ucap De la Fuente.

Pelatih Spanyol itu juga memberikan, pembelaan kepada Ferran Torres yang mencetak gol kemenangan pada laga final. Menurutnya, kritik yang diterima Ferran selama ini tidak sebanding dengan kontribusi besarnya untuk tim nasional.

"Saya sangat senang karena Ferran mencetak gol di final. Ketika seseorang menerima kritik yang tidak adil, kehidupan akan memberi kesempatan untuk membuktikan dirinya," ujar De la Fuente.

Ia bahkan membandingkan, Ferran Torres dengan Álvaro Morata yang selama bertahun-tahun juga kerap menjadi sasaran kritik. De la Fuente menilai, keduanya mampu menjawab keraguan dengan performa di lapangan.

"Ferran memiliki angka-angka yang menakjubkan bersama timnas. Ia sedikit mengingatkan saya kepada Álvaro Morata," ucap De la Fuente.

Dalam kesempatan yang sama, De la Fuente memuji perkembangan pesat dua pemain muda Spanyol, Lamine Yamal dan Pau Cubarsi. Ia menyebut, keduanya memiliki kualitas yang jauh melampaui usia mereka.

"Orang-orang seperti Lamine Yamal dan Pau Cubarsi sangat istimewa. Mereka memiliki kematangan dan kecerdasan yang luar biasa. Bagi saya, mereka adalah para jenius," kata De la Fuente.

De la Fuente juga membandingkan, tim juara dunia 2026 dengan generasi emas Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2010. Menurutnya, filosofi permainan tetap sama, tetapi kini telah berkembang mengikuti tuntutan sepak bola modern.

"Saya tidak begitu menyukai istilah tiki-taka. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sepak bola kolektif atau harmonis," ujar De la Fuente.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....