Kebakaran Hutan di Prancis dan Spanyol Paksa Ratusan Ribu Warga Mengungsi

  • 26 Jul 2026 12:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kebakaran hutan besar di Prancis dan Spanyol memaksa 267.000 orang mengungsi, dengan 70.000 di Spanyol dan 197.000 di sekitar Bordeaux, Prancis.
  • Api yang terus meluas telah menghanguskan puluhan ribu hektare lahan di kedua negara, dipicu oleh cuaca panas ekstrem dan angin kencang.
  • Petugas pemadam kebakaran masih berjuang mengendalikan api yang meluas, sementara bencana ini juga telah menewaskan sejumlah korban jiwa.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kebakaran hutan besar yang melanda Prancis dan Spanyol memaksa lebih dari 267.000 orang meninggalkan rumah mereka. Bencana tersebut juga kembali menelan korban jiwa, sementara petugas masih berjuang mengendalikan api yang terus meluas di kedua negara.

Melansir Al Jazeera, sebanyak 70.000 warga dievakuasi di Spanyol, sedangkan sekitar 197.000 lainnya harus meninggalkan kawasan sekitar Bordeaux, Prancis. Kebakaran yang dipicu cuaca panas dan angin kencang itu telah menghanguskan puluhan ribu hektare lahan.

Di Spanyol, petugas pemadam kebakaran masih berupaya mengendalikan kobaran api besar di dekat Madrid. Namun, angin yang berubah-ubah membuat proses pemadaman semakin sulit.

Kepala Manajemen Darurat Pemerintah Regional Madrid, Carlos Novillo, mengatakan kebakaran saat ini berada pada kondisi terburuk. Menurutnya, besarnya kobaran api telah melampaui kemampuan petugas di lapangan.

"Kebakaran ini berada pada puncaknya. Saat ini berada di luar kapasitas petugas pemadam untuk mengendalikannya," kata Carlos Novillo, dikutip Al Jazeera, Minggu, 26 Juli 2026.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyebut kebakaran telah melahap hampir 10.000 hektare lahan di wilayah Madrid. Sementara itu, sekitar 13.000 hingga 15.000 hektare lainnya terbakar di Provinsi Avila yang berbatasan dengan Madrid.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan penyelamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah. Ia mengingatkan kondisi di lapangan masih sangat dinamis meski suhu udara mulai menurun.

"Prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa dan melindungi kawasan permukiman. Kami akan menghadapi beberapa jam yang sangat sulit karena belum mengetahui bagaimana arah maupun kekuatan angin," ujar Sanchez.

Di Prancis, otoritas melakukan evakuasi besar-besaran terhadap sekitar 197.000 warga di wilayah Bordeaux, termasuk kawasan wisata. Menteri Dalam Negeri Prancis menyebut operasi tersebut kemungkinan menjadi evakuasi terbesar pada masa damai dalam sejarah negara itu.

Pemerintah juga menutup Bandara Bordeaux dan mengimbau masyarakat menghindari perjalanan menuju wilayah tersebut melalui jalur darat maupun kereta api. Beberapa kawasan seperti Le Haillan, Eysines, dan Merignac turut dikosongkan demi keselamatan warga.

Semenanjung Cap Ferret yang terkenal sebagai kawasan hunian mewah juga terdampak parah. Sekitar 44.000 orang dievakuasi karena akses jalan utama terancam kobaran api, sementara lebih dari 50 rumah dilaporkan hancur.

Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu mengatakan kebakaran yang melanda negaranya telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah kembali menggelar rapat darurat untuk memperkuat penanganan bencana.

Presiden Emmanuel Macron turut mengerahkan militer dan pesawat angkut untuk mendukung operasi pemadaman. Prancis juga meminta bantuan kepada Uni Eropa dalam menghadapi kebakaran yang terus meluas.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez mengatakan kebakaran di negaranya telah menghanguskan hampir 98.000 hektare lahan. "Masih ada sejumlah titik kebakaran di seluruh negeri yang belum berhasil dikendalikan," kata Nunez.

Menurut kajian kelompok World Weather Attribution dikutip Al Jazeera, sejumlah wilayah Eropa telah mengalami sedikitnya dua gelombang panas sejak Mei 2026. Kondisi kekeringan yang diperparah perubahan iklim akibat aktivitas manusia dinilai meningkatkan risiko dan intensitas kebakaran hutan tahun ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....