Paulus Kadok Kritik Narasi SDM Lokal Hanya Cocok Jadi Buruh

  • 21 Jan 2026 08:55 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Ketua Forum CSR Kutai Barat (Kubar), Paulus Kadok, mengkritik tajam narasi yang selama ini memojokkan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi bekerja di perusahaan pertambangan. Menurutnya, angkatan kerja yang banyak tidak sebanding dengan jumlah perusahaan yang ada.

Kemudian peluang diterima terbatas karena persaingan yang ketat yang menjadi salah satu penyebab minimnya tenaga kerja lokal bisa diterima di perusahaan tambang. Hanya saja Paulus menilai, kegagalan masuk ke dunia industri jangan dijadikan tolak ukur rendahnya kualitas warga, melainkan momentum untuk beralih menjadi wirausahawan.

"Selama ini SDM kita disebut rendah karena dianggap tidak bisa bekerja di perusahaan. Artinya, pikiran kita selalu menaruh SDM kita untuk menjadi buruh. Padahal, kita harusnya mendorong mereka menjadi pelaksana ekonomi lokal melalui UKM," kata Paulus Kadok dalam diskusi perencanaan daerah di Sendawar, Senin, 19 Januari 2026.

BACA JUGA:

Pertumbuhan Ekonomi Kutai Barat Dinilai Belum Inklusif dan Berkelanjutan

Paulus menilai, ketergantungan pada standar perusahaan tambang hanya akan membuat warga lokal terus terjebak dalam posisi marginal. Ia mencontohkan sejarah banyak pengusaha sukses di masa lalu yang berhasil membangun ekonomi meskipun dengan keterbatasan pendidikan formal.

"Zaman dulu banyak entrepreneur yang sebenarnya buta huruf, tapi mereka bisa sukses. Jadi, SDM kita jangan didik hanya untuk jadi buruh. Fokuslah membina mereka mengelola potensi nyata yang ada, seperti perikanan atau gula aren," ujarnya.

BACA JUGA:

Wabup Soal Ekonomi Kubar: Tambang Pasti Habis, Pertanian Solusinya

Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Barat untuk lebih serius memfasilitasi UKM agar mampu mengelola kekayaan alam sendiri. Dengan menjadi pengusaha di tingkat lokal, masyarakat tidak hanya akan mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi lingkungan sekitarnya, tanpa harus bergantung pada fluktuasi kebutuhan tenaga kerja di sektor galian.

BACA JUGA:

Kadis Pertanian Dorong Warga Kubar Tanam Sawit, Penghasilan Lampaui UMKM

Paulus meyakini, tantangan SDM saat ini bukan pada rendahnya kualitas intelektual, melainkan pada minimnya dukungan untuk menjadi penggerak ekonomi mandiri. Jika paradigma ini berubah, angka kemiskinan Kubar yang mencapai 8,7 persen diyakini dapat ditekan melalui penguatan sektor ekonomi kreatif dan agroindustri.

Sejalan dengan visi Pemkab Kubar, penguatan SDM berbasis kewirausahaan diharapkan menjadi kunci transformasi ekonomi Kutai Barat menuju era pasca-tambang yang lebih berdaulat dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita