Produksi Padi Kubar Naik Hampir 6.000 Ton, tapi Ketergantungan Masih Tinggi
- 27 Mar 2026 21:54 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Produksi padi di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) mencapai sekitar 5.957 ton pada 2025. Meski meningkat, angka tersebut masih jauh dari kebutuhan beras masyarakat yang mencapai lebih dari 22.000 ton per tahun.
Kepala Dinas Pertanian Kubar, Stepanus Alexander Samson mengatakan produksi itu berasal dari luas lahan 1.985 hektare, terdiri dari 500 hektare sawah dan 1.485 hektare ladang, dengan produktivitas rata-rata 3,01 ton per hektare.
Memasuki 2026, capaian panen hingga Maret terus meningkat. Pada Januari tercatat 101,93 hektare, Februari 411,78 hektare, dan Maret mencapai 779,59 hektare. Puncak panen terjadi pada Maret dan diperkirakan berlanjut hingga April.
“Dari capaian itu sekitar 3.890 ton beras sudah terserap dan dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya saat panen raya di Rapak Oros, Kecamatan Linggang Bigung, Kamis 26 Maret 2026.
Di sisi lain, Bupati Kubar Frederick Edwin menegaskan pentingnya swasembada pangan sebagai langkah strategis menghadapi dinamika global. Ia memastikan pemerintah daerah akan memperbaiki infrastruktur jalan menuju kawasan pertanian dan menjaga lahan sawah agar tidak beralih fungsi.
“Kami akan mengupayakan perbaikan akses jalan dan menyiapkan aturan agar lahan sawah tetap difungsikan untuk tanaman padi,” tegasnya.
Ia juga mendorong kembali program bapak asuh petani untuk meningkatkan pendampingan di lapangan.
Sementara itu, Wakil Bupati Kubar Nanang Adriani menilai harga menjadi faktor utama yang memengaruhi semangat petani.
“Kalau harga bagus, petani pasti lebih semangat. Itu hukum ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga gabah di Kecamatan Bongan saat ini mencapai sekitar Rp6.500 per kilogram, yang dinilai cukup baik untuk mendorong produksi.
Namun demikian, Kubar masih menghadapi defisit beras yang besar. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kubar, Rion, menyebut produksi beras lokal jauh di bawah kebutuhan 22.000 ton per tahun.
“Artinya defisit sekitar 18.000 sampai 19.000 ton. Ini yang membuat harga beras di daerah cukup tinggi,” katanya.
Saat ini, harga beras di pasaran mencapai Rp18.000 hingga Rp19.000 per kilogram, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.400.
Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan lahan pertanian. Dominasi perkebunan kelapa sawit disebut telah menguasai sebagian besar lahan, sehingga ruang untuk pengembangan pertanian pangan semakin sempit.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....