Senator Yulianus Henock Sedih SDM Kubar dan Mahulu Terendah di Kaltim

  • 23 Feb 2026 23:24 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Anggota DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur, Yulianus Henock Sumual, mengungkapkan rasa prihatin sekaligus malu mendapati fakta bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) menduduki peringkat terendah dibandingkan 10 kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Timur.

Pernyataan tersebut disampaikan Henock saat melakukan kunjungan kerja di Sendawar. Menurutnya, kondisi ini merupakan "lampu kuning" bagi pembangunan daerah, terutama di tengah posisi Kaltim sebagai tuan rumah Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Indeks SDM Kubar dan Mahulu terendah se-Kalimantan Timur. Sudah kita terpuruk masalah kemiskinan, SDM terendah juga. Saya sangat sedih, karena saya juga lahir di Kutai Barat,” ujar Henock dalam pertemuan dengan Bupati Kubar dan jajaran di kantor bupati, Senin, 23 Februari 2026.

Henock menganalisis, rendahnya indeks SDM di dua wilayah pedalaman ini bukan disebabkan oleh kurangnya potensi masyarakat, melainkan akibat dari minimnya aksesibilitas dan alokasi anggaran yang tidak terserap secara maksimal ke daerah-daerah terpencil.

"Saya malu mendengar hal-hal seperti itu. Kaltim ini kaya, tapi kenapa SDM di Kubar dan Mahulu justru terendah? Ini berkaitan erat dengan infrastruktur yang buruk dan anggaran yang seringkali terpotong atau tidak sampai pada sasaran peningkatan kapasitas warga," katanya.

Ia menilai, tanpa perbaikan infrastruktur jalan dan komunikasi, akses terhadap pendidikan dan pelatihan berkualitas bagi warga pedalaman akan terus terhambat.

“Pak Kadis, Pak Bupati kalau ada masalah dengan pemerintah pusat, laporan dengan kami. Kita akan panggil sama-sama kementerian itu. Kami punya hak untuk memanggil mereka, mau dirjen, menteri, apabila mereka menggunakan lahan-lahan semua untuk perkebunan, yang membuat kita miskin sampai SDM rendah,” ujarnya.

Sebagai wakil daerah di tingkat pusat, Henock berjanji akan menjadikan isu ketimpangan SDM ini sebagai prioritas dalam bahan evaluasi nasional. Ia berkomitmen untuk mendesak pemerintah pusat agar memberikan perhatian khusus melalui program-program penguatan kapasitas yang lebih terarah bagi warga di pedalaman Kalimantan Timur.

"Ini adalah tugas saya sebagai keterwakilan daerah. Kita harus memperjuangkan di pusat supaya Kalimantan Timur, khususnya wilayah hulu seperti Kubar dan Mahulu, mendapatkan perhatian lebih. Pendapatan APBD kita jangan dipotong, karena ketika itu dipotong, dampaknya langsung terasa pada kualitas pendidikan dan perekonomian kita," ucapnya menambahkan.

Henock berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat bersinergi lebih erat. Ia mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam yang disetorkan Kaltim ke pusat seharusnya berbanding lurus dengan kualitas hidup dan kecerdasan masyarakatnya.

"Kita tidak boleh membiarkan putra-putri daerah hanya menjadi penonton di rumah sendiri karena kalah bersaing secara SDM. Pembenahan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari infrastruktur hingga pemerataan kualitas pendidikan," katanya.

Sebagai informasi, Indikator pengukur indeks Sumber Daya Manusia (SDM) umumnya menggunakan pendekatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) yang mencakup tiga dimensi utama. yaitu kesehatan (umur panjang dan hidup sehat), pengetahuan (pendidikan), dan standar hidup layak (ekonomi).

Dimensi tersebut dihitung dalam indikator Angka Harapan Hidup saat lahir (AHH), Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), dan Pengeluaran per kapita disesuaikan.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), capaian pembangunan manusia di suatu wilayah pada waktu tertentu dikelompokkan dalam empat kelompok, yaitu :

  1. Kelompok "Sangat Tinggi": IPM ≥ 80
  2. Kelompok "Tinggi": 70 ≤ IPM ≤ 80
  3. Kelompok "Sedang": 60 ≤ IPM ≤ 70
  4. Kelompok "Rendah": IPM < 60

Pengelompokan ini bertujuan untuk mengorganisasikan wilayah-wilayah menjadi kelompok-kelompok yang sama dalam hal pembangunan manusia. Semakin tinggi nilai IPM suatu negara/daerah, menunjukkan pencapaian pembangunan manusianya semakin baik.

Merujuk data BPS Kalimantan Timur tahun 2024, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Kutai Barat berada di angka 74,50 dan menempati peringkat ke-7 dari 10 kabupaten/kota se-Kaltim.

Dua posisi terbawah ditempati Kabupaten Penajam Paser Utara (73,90) dan Kabupaten Mahakam Ulu (70,35).

Namun, dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang berlokasi di Penajam Paser Utara, posisi IPM PPU berpotensi meningkat pada 2025–2026 seiring percepatan pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....