KKN Perdana di IKN Jadi Sejarah Baru, Basuki Minta Mahasiswa Hadirkan Solusi Nyata

  • 06 Agt 2026 19:31 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Nusantara – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bersama Kalimantan Universities Consortium (KUC)–Borneo Studies Network (BSN) Tahun 2026 resmi berakhir setelah 34 mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi menyelesaikan pengabdian di Ibu Kota Nusantara (IKN). Program yang berlangsung sejak 13 Juli hingga 5 Agustus 2026 itu dinilai menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan menjalankan KKN tematik yang berfokus pada pembangunan IKN.

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengatakan, kegiatan KKN harus menjadi ruang belajar yang mampu membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata dalam menyelesaikan persoalan pembangunan, bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik.

"Kegiatan ini bukan hanya untuk survei, tetapi bagaimana cara kita menyelesaikan masalah itu. Jangan sampai mahasiswa KKN ikut kegiatan ini hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Carilah value dan manfaat kegiatannya untuk diri kita sendiri," kata Basuki saat pelepasan peserta KKN di kantor Balaikota Nusantara, Rabu, 5 Agustus 2026.

Menurut Basuki, pembangunan IKN membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi, serta menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan kota baru. Karena itu, pengalaman selama KKN diharapkan menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja.

Selama program berlangsung, para mahasiswa ditempatkan di berbagai unit kerja Otorita IKN sesuai disiplin ilmu masing-masing. Mereka terlibat dalam bidang hukum, perencanaan makro, pertanahan, pengendalian penyelenggaraan pemerintahan dan perizinan pembangunan, pelayanan dasar, lingkungan hidup dan penanggulangan bencana, ketahanan pangan, investasi, pembiayaan, pembangunan sarana dan prasarana, hingga pengelolaan kawasan perkotaan.

Ketua Kalimantan Universities Consortium (KUC) Tahun 2026 sekaligus Rektor Universitas Balikpapan, Dr. Ir. Isradi Zainal, mengatakan program tersebut dirancang berbeda dari model KKN pada umumnya. Mahasiswa tidak hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga ditempatkan sesuai bidang keahlian untuk mempelajari sekaligus memberikan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan Nusantara.

"Ini adalah KKN bersejarah. Topik utamanya adalah KKN tematik berdampak. Mahasiswa ditempatkan sesuai disiplin ilmunya masing-masing, kemudian setiap minggu turun ke lapangan untuk bersinergi dan melihat apa yang bisa mereka lakukan bagi masyarakat," ujar Isradi.

Ia menjelaskan, konsep "berdampak" yang diusung dalam program tersebut tidak berhenti ketika masa KKN selesai. Pengalaman, gagasan, dan solusi yang diperoleh mahasiswa diharapkan terus dikembangkan pada masa mendatang.

Menurutnya, manfaat terbesar program ini adalah memberikan ruang bagi putra-putri Kalimantan untuk menjadi bagian dari sejarah pembangunan ibu kota negara.

"Yang paling penting, mereka menjadi bagian dari sejarah IKN. Orang Kalimantan diberi ruang untuk ikut berkiprah membangun ibu kota negara," katanya.

Isradi menyebut program KKN perdana ini diikuti 34 mahasiswa. Jumlah tersebut disesuaikan dengan kuota yang tersedia di Otorita IKN karena pada saat bersamaan juga terdapat lebih dari 130 peserta magang dari berbagai institusi.

Ia menambahkan, KUC tidak hanya melibatkan perguruan tinggi di Kalimantan Indonesia, tetapi juga bersinergi dengan Borneo Studies Network (BSN) yang mencakup perguruan tinggi di Sarawak, Sabah, dan Brunei Darussalam.

"KUC bukan hanya berbicara tentang KKN atau magang. Yang terpenting adalah bagaimana perguruan tinggi bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan," ujarnya.

Fokus pada Wilayah Penyangga IKN

Ke depan, KUC akan memperluas kolaborasi melalui penelitian, program desa binaan, dan pengabdian masyarakat yang berkelanjutan di kawasan IKN.

Isradi mengatakan perhatian perguruan tinggi tidak hanya difokuskan pada Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), tetapi juga wilayah penyangga seperti Desa Bumi Harapan dan Desa Pemaluan.

Menurutnya, pembangunan IKN harus memberikan manfaat yang merata sehingga tidak menimbulkan kesenjangan antara kawasan inti dan desa-desa di sekitarnya.

Beberapa isu yang menjadi perhatian KUC antara lain penanganan stunting, pengelolaan sampah, pengembangan embung, hingga peningkatan kualitas lingkungan dan pelayanan masyarakat.

"Kami tidak ingin nanti KIPP berkembang menjadi kawasan bertaraf internasional, sementara wilayah di sekitarnya tertinggal. Karena itu perguruan tinggi harus ikut memberikan solusi agar pembangunan berjalan seimbang," ucapnya.

Ia menambahkan, program tersebut merupakan implementasi arahan Presiden agar perguruan tinggi semakin aktif menyelesaikan persoalan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Mahasiswa Dapat Pengalaman Langsung

Salah seorang peserta KKN dari Fakultas Hukum Universitas Balikpapan, Arief Setiawan, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti program di IKN.

"Selama tiga minggu di sini banyak pembelajaran yang saya dapat. Kami belajar bekerja sama, menghadapi berbagai dinamika, dan melihat langsung bagaimana pembangunan IKN berlangsung," ujarnya.

Arief menilai pembangunan IKN memang masih terus berjalan, namun optimistis proyek tersebut akan mendorong pemerataan pembangunan nasional.

"Saya mendukung penuh pembangunan IKN karena saya berharap tidak ada lagi kesan Jawa-sentris. Semoga pembangunan IKN bisa segera selesai dan berjalan sesuai harapan," katanya.

Senada dengan itu, peserta dari Universitas Borneo Tarakan, Zevanya Yholanda Valentina, mengatakan program KKN mengajarkan pentingnya kebersamaan dan kerja sama lintas daerah maupun disiplin ilmu.

"Di sini kami benar-benar merasakan arti kekeluargaan. Saat ada yang mengalami kesulitan kami saling membantu, dan ketika berhasil kami merayakannya bersama. Harapan saya IKN ke depan semakin maju," ujar Defania.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....